NUSA PENIDA, FORUMKEADILANBali.com – Hujan deras mengguyur wilayah Kabupaten Klungkung dalam beberapa hari terakhir disertai angin kencang mengakibatkan terjadi bencana alam di sejumlah titik di Kecamatan Nusa Penida, Rabu (21/1/2026) malam.
Bencana yang terjadi tanah longsor, air bah, dan banjir menyebabkan kerusakan cukup parah, terutama sejumlah pura dan infrastruktur lingkungan.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Bupati Klungkung I Made Satria bersama Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra, Kalak BPBD Klungkung, Kadis Kebudayaan, Camat Nusa Penida, serta perwakilan Dinas PUPRPKP turun langsung ke lapangan meninjau lokasi terdampak bencana.
Salah satu lokasi mengalami kerusakan parah adalah Pura Ulun Danu Banjar Penida, Desa Sakti. Pura yang diempon sekitar 90 Kepala Keluarga (KK) ini rusak hingga lebih dari 80 persen akibat diterjang tanah longsor disertai aliran air dan lumpur.
Klian Pura Ulun Danu Banjar Penida, I Made Budiarna melaporkan peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (20/1) sekitar pukul 24.00 WITA. Akibat kejadian itu, sebanyak 10 palinggih, satu balai piyasan, apit lawang, serta tembok panyengker mengalami kerusakan berat. Kerugian ditaksir mencapai Rp2 miliar.
Di lokasi lain, tepatnya di Banjar Senangka, Desa Sakti, sebuah pura paibon juga terdampak cuaca ekstrem. Sebuah balai piyasan berukuran 3 meter x 2,5 meter roboh akibat hujan lebat disertai angin kencang juga terjadi, Selasa (20/1) sore.
Sementara itu, Pura Segara di Banjar Prapat, Desa Ped juga mengalami kerusakan. Sebanyak empat palinggih beserta tembok penyengker roboh akibat digerus air bah.
Sekretaris Banjar Prapat, I Komang Suwarma mengatakan derasnya aliran air menyebabkan robohnya tembok rumah dan palinggih penunggun karang milik warga atas nama I Ketut Roni, lokasinya bersebelahan dengan Pura Segara.
Sebelumnya, dihari yang sama, rombongan juga melakukan peninjauan ke Desa Batununggul, tepatnya di ruas jalan depan Bank BPD Bali. Di lokasi tersebut, Bupati Satria melihat langsung kondisi saluran Sungai Mentigi mengalami pendangkalan dan dipenuhi sampah. Kondisi ini menyebabkan terjadi banjir setinggi kurang lebih satu meter. Meskipun hujan turun, pada Rabu (21/1) pagi tergolong intensitasnya sedang.
Perbekel Desa Batununggul, I Ketut Sulatra menjelaskan banjir terjadi akibat pendangkalan sungai serta tumpukan sampah terbawa arus. Kondisi serupa juga ditemukan pada sejumlah aliran sungai di sekitar Desa Ped mengalami pendangkalan dan penyempitan akibat pembangunan liar.
Menyikapi kondisi tersebut, Bupati Klungkung I Made Satria memutuskan sejumlah langkah strategis. Untuk Pura Ulun Danu Banjar Penida, Bupati menyarankan agar lokasi pura dipindahkan ke tempat lebih aman, beberapa meter dari lokasi semula berada di bawah tebing dan rawan longsor.
Bupati Satria mengungkaopkan Pemerintah Kabupaten Klungkung akan mengupayakan permohonan lahan kepada Pemerintah Provinsi Bali selaku pemilik lahan di sekitar lokasi. βDemi keamanan ke depan, saya sarankan agar pura dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, dan tidak lagi berada di bawah tebing seperti kondisi sekarang. Saya akan mengupayakan permohonan lahan kepada Pemerintah Provinsi Bali selaku pemilik lahan di sekitar sini. Apabila pura yang rusak ini tetap dibangun kembali di lokasi lama, Pemkab Klungkung tidak berani memberikan bantuan dana karena dikhawatirkan longsor bisa terjadi kembali,β tegas Bupati Satria.
Terkait kerusakan balai piyasan di Pura Paibon Banjar Senangka, Desa Sakti, serta robohnya sejumlah pelinggih di Pura Segara Banjar Prapat, Desa Ped, Bupati Satria mendorong para pangempon pura segera membuat proposal lengkap beserta Rencana Anggaran Biaya (RAB) ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Klungkung.
Menyikapi banyaknya sungai dan saluran air di wilayah Desa Batununggul dan Desa Ped mengalami pendangkalan dan dipenuhi sampah, Bupati Satria langsung memerintahkan BPBD Klungkung bersama Dinas PUPRPKP melakukan normalisasi sungai tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif guna mencegah terulangnya bencana banjir di wilayah Nusa Penida. (fkb/pas)

