Pendidikan

Kenapa Siswa Gampang Mengalami Distraksi?
Diterbitkan: 26 Juli 2026, 08:10 | Diperbarui: 26 Juli 2026, 08:15

Oleh : Agung Jelantik

BANGLI, FORUMKEADILANBali.com – BANYAK orang mengira tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah kecerdasan buatan atau AI yang tengah berkembang dengan sangat masiv. Dugaan itu keliru. Musuh terbesar pembelajaran justru sesuatu yang jauh lebih dekat dan laten. Ia adalah perhatian terus-menerus terpecah. Dalam kontek pedagogik, gagal fokus lebih dikenal dengan istilah Distraksi.

Distraksi merupakan proses psikologis ketika perhatian seseorang teralihkan dari aktivitas utama menuju rangsangan lain. Data dari PISA tahun 2022 menyebutkan sekitar 25-27 prosen siswa berusia 15 tahun di Indonesia mengalami distraksi saat belajar karena penggunaan perangkat digital. Angka yang cukup tinggi dan tidak menutupkemungkinan ini menjadi salah satu penyebab rendahnya kemampuan literasi dan numerasi anak-anak Indonesia.

Dalam pembelajaran, distraksi membuat siswa kehilangan konsentrasi sehingga informasi yang disampaikan guru tidak diproses secara utuh. Distraksi dapat dibedakan menjadi dua bentuk. Pertama, distraksi eksternal, yaitu gangguan yang berasal dari lingkungan, seperti bunyi notifikasi gawai, percakapan teman, suara kendaraan, atau aktivitas lain di sekitar kelas. Kedua, distraksi internal, yaitu gangguan yang muncul dari dalam diri siswa, seperti rasa cemas, kelelahan, lapar, memikirkan masalah keluarga, konflik dengan teman, atau sekadar melamun. Keduanya sama-sama menghambat proses belajar. Bahkan, dalam banyak kasus, distraksi internal jauh lebih sulit dikenali karena siswa tampak memperhatikan guru, padahal pikirannya sedang mengembara ke persoalan lain. Kita sering mendengar keluh kesah guru seperti ini. Anak-anak jaman sekarang fisiknya saja ada di ruang kelas, tapi pikirannya entah kemana, sebuah fakta cukup menarik.

Bagaimana Distraksi Menggangu Kerja Otak

Belajar sesungguhnya bukan sekadar mendengar penjelasan guru. Di balik proses yang tampak sederhana itu, otak melakukan serangkaian pekerjaan kompleks: menyimak, memahami, menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, lalu menyimpannya ke dalam memori jangka panjang. Dengan kata lain, selama proses pembelajaran seharusnya siswa mengalami sebuah proses psikologis yakni menginternalisasi konstruk baru  yang bersumber dari informasi, data, maupun pengalaman yang diterima dari guru. Efektif tidaknya proses itu sangat ditentukan oleh beragam faktor atau stimulus. Ia tidak hanya stimulus ekternal namun juga stimulus eksternal. Agar mampu menjaga ritme stumulus tersebut menjadi faktor yang berkonstrubusi positif atau menguatkan proses internasilisasi konstruk baru tersebut maka siswa perlu menjaga konsentrasinya. Tetap fokus menjadi kunci.

Baca Juga :  Buka Koncab XXIII PGRI Dawan, Wabup Tjok Surya Tekankan Komitmen dan Peningkatan Mutu Pendidikan

Sangat manusiawi jika siswa kerap mengalami ganguan konsentrasi. Sifat itu lahir secara alami karena merupakan kodrat alam. Manusia tentu tidak bisa menolak kodrat ilahi tersebut. Yang bisa dilakukan adalah mengendalikannya. Hasil research yang dilakukan oleh para ahli menunjukan jika manusia menggunakan waktu terjaganya dengan pikiran sesekali mengembara. Artinya, fokus mereka terganggu. Hal ini diperkuat lagi dari hasil penelitian Psikolog pendidikan John Sweller melalui Cognitive Load Theory menjelaskan bahwa kapasitas memori kerja (working memory) manusia sangat terbatas. Ketika perhatian terpecah oleh berbagai gangguan, kapasitas tersebut dipenuhi oleh informasi yang tidak relevan sehingga ruang untuk memahami materi pelajaran menjadi semakin sempit.

Inilah sebabnya siswa sering merasa telah mengikuti pelajaran selama satu jam, tetapi kesulitan menjelaskan kembali apa yang dipelajari. Persoalannya bukan semata-mata karena materi sulit, melainkan karena informasi tidak pernah benar-benar tersimpan dalam memori jangka panjang.

Distraksi Memaksa Otak Berpindah

Salah satu dampak paling nyata dari distraksi adalah terjadinya context switching, yaitu perpindahan perhatian secara berulang dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Misalnya, ketika seorang guru tengah menjelaskan materi tentang bagaimana mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Namun ada jeda dimana seorag siswa perhatiannya teralihkan oleh obrolan teman-temannya. Kondisi ini tentu menjadi pemicu sehingga siswa tidak lagi fokus pada penjelasan guru yang menyebabkan terjadinya pemutusan konsentrasi.

Guru menjelaskan materi, siswa melihat notifikasi telepon, kembali mendengar penjelasan, lalu melirik pesan lain. Sekilas perpindahan tersebut hanya berlangsung beberapa detik. Namun, penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa setiap kali otak berganti fokus, diperlukan waktu untuk kembali mencapai konsentrasi penuh. Semakin sering perpindahan terjadi, semakin besar energi mental yang terbuang.

Baca Juga :  <strong>Badung Gelar Bimtek Penguatan Forum Komunikasi PAUD-SD</strong>

Profesor Gloria Mark dari University of California, Irvine, dalam penelitiannya tentang perhatian digital menunjukkan bahwa gangguan kecil yang berulang dapat menurunkan produktivitas, meningkatkan kelelahan mental, dan memperbesar peluang terjadinya kesalahan. Dengan kata lain, manusia sejatinya bukan makhluk yang mampu melakukan multitasking, melainkan hanya berpindah sangat cepat dari satu tugas ke tugas lainnya. Kondisi inilah yang kini semakin sering terjadi di ruang kelas.

Distraksi yang terus-menerus tidak hanya berdampak pada prestasi belajar. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu academic burnout, yaitu kelelahan emosional akibat tekanan belajar yang berkepanjangan.

Siswa menjadi mudah lelah, kehilangan motivasi, sulit memahami materi, bahkan menganggap belajar sebagai aktivitas yang melelahkan. Ironisnya, kelelahan ini bukan semata-mata disebabkan oleh banyaknya tugas, melainkan karena otak dipaksa bekerja lebih keras untuk mengembalikan fokus setiap kali perhatian teralihkan. Dalam bukunya Deep Work, Cal Newport menegaskan bahwa kemampuan mempertahankan konsentrasi mendalam telah menjadi keterampilan yang semakin langka di era digital. Padahal, justru kemampuan inilah yang menentukan kualitas belajar, bekerja, dan memecahkan masalah.

Cara Mencegah Distraksi

Meskipun merupakan fenomena psikologis, Distraksi pada siswa dapat dicegah. Guru tentu telah dilatih untuk mengatasi permasalahan ini dengan sangat baik. Masalahnya, apakah mereka mau menerapkan dengan optimal atau bukan. Penggunan media pembelajaran yang beragam, metode yang variative, serta pelibatan siswa dalam seluruh proses pembelajaran merupakan cara paling ampuh untuk mencegah distraksi tersebut. Pembelajaran mendalam dengan pelibatan siswa secara psikologis maupun fisik tentu menjadi salah satu upaya yang patut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya distraksi tersebut. Pada saat yang sama, cara untuk menghindari distraksi eskternal yakni dengan melakukan pembatasan penggunaan gawai, smart phone terhadap siswa selama mereka berada di lingkungan sekolah.

Baca Juga :  SMKN 1 Bangli, Siap Berangkatkan Siswa ke Jepang

Pada akhirnya, keberhasilan proses pembelajaran di kelas, bukan hanya ditopang oleh ketersediaan sarana prasarana pendukung yang canggih, namun ada faktor lain yang ikut berkontribusi yakni bagaimana seorang guru mampu menjaga ritmen konsentrasi siswa selama pembelajaran di kelas. Distraksi yang terjadi secara terus menerus bukan hanya berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa, namun dalam jangka panjang berdampak pada menurunnya daya kritis generasi muda. (*)

Shares: