Nasional

Lurah Giwangan Yogyakarta Gerakkan Warga Kelola Sampah Mandiri dari Rumah
Diterbitkan: 6 Mei 2026, 18:25 | Diperbarui: 6 Mei 2026, 19:11

YOGYAKARTA, FORUMKEADILANBali.com – Lurah Giwangan Pemkot Yogyakarta, ​Dyah Murniwarini mengajak warga serius mengelola sampah dengan menggalakkan budaya pengelolaan sampah mandiri. Hal itu disampaikan saat menerima rombongan Kegiatan Pekan Informasi Pembangunan Pemkot Kota Denpasar bersama Forum Wartawan Denpasar (Forward) ke Yogyakarta dari tanggal 5-7 Mei 2026.

Rombongan PIP Pemkot Denpasar dipimpin Asisten III Setda Kota Denpasar, Putu Wisnu Kusuma Wijaya didampingi Kabag Prokopim Ni Putu Ayu Sugiantari serta Sekretaris Dispenda Denpasar Dewa Gede Rai.

Dalam kesempatan tersebut, Dyah Murniwarini mengatakan. kunci keberhasilan lingkungan yang bersih terletak pada kedisiplinan warga dimulai dari lingkup rumah tangga.

Mewujudkan lingkungan bersih, Dyah Murniwarini merumuskan lima langkah strategis yang wajib diterapkan oleh PKK dan seluruh lapisan masyarakat yang ada di Kelurahan Giwangan yakni pilah dari rumah, tahap awal yang krusial memisahkan sampah sesuai jenisnya. Selanjutnya, optimalisasi ​bank sampah yakni masyarakat didorong membawa sampah anorganik ke bank sampah sebagai titik pengumpulan resmi. ​Diteruskan dengan kelola sampah organik yakni sampah organik tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah, salah satunya melalui metode biopori.

”​Gerakan habiskan makanan adalah sebuah langkah preventif menekan produksi sampah organik sisa konsumsi rumah tangga,” ujatrnya.

​Selain itu, kata dia, dilakukan budaya wadah berulang, yakni mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai dengan membawa botol atau wadah makan sendiri (tumbler) saat beraktivitas. ​Tidak sekadar memberi instruksi, pihak kelurahan terus melakukan edukasi dan pendampingan intensif saat penimbangan sampah berkala guna menjaga motivasi warga.

Diah Murniwarini mengaku strategi ini semakin diperkuat dengan sinergi bersama Jogja Life Cycle. Kolaborasi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga. Pasalnya, Jogja Life Cycle berani membeli sampah anorganik, seperti botol plastik, dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan pengepul biasa.

Baca Juga :  Serahkan Bantuan Rp3,4 Miliar Korban Banjir, Gubernur Koster: Warga Harus Tetap Sehat dan Kuat

Dyah Murniwarini menjelaskan pengepul umum hanya menghargai Rp2.000-Rp2.500 per kilogram, Jogja Life Cycle mampu memberikan harga hingga Rp5.000 per kilogram.

​Ia berharap insentif harga lebih tinggi ini dapat menjadi “bahan bakar” semangat bagi bank sampah di wilayahnya. Dengan pola pengelolaan terintegrasi antara edukasi masyarakat dan nilai ekonomi yang nyata, Kelurahan Giwangan optimis dapat mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi seluruh warga Yogyakarta. (pas)

 

Shares: