DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Pemerintah Kota Denpasar menggelar Dharma Shanti rangkaian perayaan Rahina Suci Nyepi di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (29/3/2026).
Kegiatan berlangsung khidmat diawali pemujaan Dharma Shanti dipuput Ida Pedanda Gde Oka Bajing dari Griya Bajing Kesiman, dilanjutkan dengan pagelaran seni bertajuk Ritus Tri Bhuwana.
Kegiatan ini dihadiri Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, serta Sekretaris Daerah Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua Komisi II DPRD Denpasar I Wayan Sutama, unsur Forkopimda Kota Denpasar, Ketua PHDI Kota Denpasar I Made Arka, Ketua MDA Kota Denpasar I Ketut Wisna, Ketua GOW Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua DWP Kota Denpasar Ny. Gusti Ayu Putu Swandewi Eddy Mulya, serta undangan lainnya.
Pelaksanaan Dharma Shanti menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan pasca Nyepi, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Mengusung tema ”Vasudhaiva Kutumbakam, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju”. Kegiatan ini menegaskan seluruh umat manusia merupakan satu keluarga besar yang harus hidup rukun dan saling menghormati.
Di sela-sela kegiatan, Walikota Jaya Negara menekankan Dharma Shanti tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi ruang refleksi untuk menumbuhkan nilai kedamaian, toleransi, dan persatuan. Nilai luhur Vasudhaiva Kutumbakam, menurutnya, menjadi landasan penting dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman. ”Melalui Dharma Shanti ini, kita diajak untuk memperkuat rasa menyama braya, saling menghargai, serta menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Inilah fondasi penting dalam membangun Denpasar yang harmonis dan Indonesia yang maju,” ujar Jaya Negara.
Sementara itu, Ketua Sabha Upadesa Kota Denpasar, Wayan Butuantara dalam dharma wacananya mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Denpasar dalam pelaksanaan kegiatan spiritual keagamaan. Ia menjelaskan bahwa Hari Suci Nyepi merupakan momentum peralihan waktu dalam penanggalan Saka sarat makna filosofis tentang keheningan dan penyucian diri.
Menurutnya, rangkaian Nyepi seperti Melasti menjadi simbol penyucian diri dan alam, yang dilaksanakan di sumber-sumber air suci seperti laut, sungai, dan beji. Hal ini mengandung pesan penting agar umat senantiasa menjaga kesucian alam, khususnya air, sebagai sumber kehidupan.
Ia menekankan nilai Catur Brata Penyepian yang dimaknai melalui konsep ”ning, neng, nung, nang”, sebagai upaya pengendalian diri untuk melebur sifat negatif seperti kesombongan, iri hati, dan keinginan berlebihan. ”Ketulusan, kesucian, dan pengendalian diri menjadi kunci dalam menjalankan dharma atau kebenaran dalam kehidupan,” jelasnya.
Ketua Panitia Dharma Shanti, Cokorda Wisnu Wardana mengatakan pelaksanaan kegiatan ini mengusung tema yang sejalan dengan Dharma Shanti Nasional. Semangat menyama braya sebagai pengejawantahan bahwa seluruh ciptaan adalah bersaudara menjadi landasan dalam mendukung visi pembangunan Kota Denpasar yang berlandaskan budaya. ”Melalui semangat Sewaka Dharma atau pelayanan, kegiatan Dharma Shanti ini diharapkan mampu membangun kesadaran bersama untuk terus bergerak menuju masyarakat Denpasar yang harmonis dan Indonesia yang maju,” ucapnya. (pas)

