Nasional

Sucikan Pretima dan Pralingga, Ratusan Krama Songan Ikuti Melasti di Tepi Siring Danau Batur
Diterbitkan: 20 September 2026, 01:07

KINTAMANI, FORUMKEADILANBali.com – Ratusan krama Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli mengikuti upacara Melasti di Pura Segara, kawasan tepi siring Danau Batur, Jumat (18/9/2026).

Prosesi ini menjadi bagian awal dari rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama yang dilaksanakan di Pura Hulundanu Batur.

Sejak prosesi dimulai, krama Desa Adat Songan tumpah ruah memadati kawasan Pura Segara dengan membawa berbagai sarana upacara serta mengiringi Ida Betara. Melasti menjadi tahapan penting sebelum memasuki rangkaian karya berikutnya. Prosesi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan persembahyangan, tetapi juga momentum penyucian secara sekala dan niskala.

Ketua Umum Karya, I Gede Darmawa, Sabtu (19/8/2026), mengatakan rangkaian Melasti, dilakukan penyucian pretima dan pralingga yang diiringi oleh krama. Selain itu, prosesi juga dimaknai sebagai upaya penyucian alam semesta atau Bhuana Agung, sehingga pelaksanaan karya diharapkan dapat berlangsung dalam suasana yang suci, harmonis, dan penuh kerahayuan.

Pemilihan Pura Segara di tepi siring Danau Batur sebagai tempat pelaksanaan Melasti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian ritual. Danau Batur memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat di kawasan Batur dan sekitarnya, baik berkaitan dengan kehidupan sosial maupun spiritual masyarakat. ”Prosesi Melasti ini dipuput tiga Sulinggih. Mereka yakni Ida Pedanda Gede Buruan dari Griya Pasraman Manuaba, Darma Saba, Ida Mpu Siwa Putra Dharma Daksa dari Griya Lingga Acala, Desa Calo dan Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti dari Tembau, Denpasar,” katanya.

Selama prosesi berlangsung, krama mengikuti setiap tahapan upacara dengan tertib. Suasana khidmat terlihat ketika berbagai sarana upacara dan pratima diiring menuju kawasan Pura Segara untuk menjalani proses penyucian.

Setelah prosesi Melasti selesai, rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama dilanjutkan dengan Pemendak Agung atau Mendak Siwi. Prosesi ini merupakan bagian dari rangkaian upacara berupa penjemputan Ida Betara dari sejumlah pura penyungsung untuk selanjutnya diiring menuju tempat pelaksanaan karya.

Baca Juga :  Pemkot Denpasar Gelar Sosialisasi KDRT Berimplikasi Pada Stunting

Prosesi Pemendak Agung tersebut dipuput tiga Ida Sulinggih, yakni Ida Pandita Mpu Celagi Dharma Kusuma dari  Bungkulan, Ida Pandita Mpu Daksa Kamareka Manuaba dari Tiga, serta Ida Rsi Bujangga Dharma Gosa dari Griya Gosa, Susut.

Pelaksanaan seluruh rangkaian upacara didampingi para pamuput manut Kuna Dresta. Unsur tersebut meliputi Guru Kubayan, Jro Dasaran, Jro Balian, Jro Mangku Gede, Jro Mangku, dan Jro Penyarikan. Keterlibatan berbagai unsur tersebut mencerminkan pelaksanaan karya yang tetap berpedoman pada tata cara dan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Adat Songan.

Melalui karya tersebut, krama memohon keseimbangan dan keharmonisan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Konsep tersebut menjadi landasan penting dalam pelaksanaan yadnya, yakni menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam semesta serta kehidupan spiritual yang menyertainya.

Rangkaian Melasti di Pura Segara menjadi penanda dimulainya tahapan penting menuju puncak pelaksanaan karya di Pura Hulundanu Batur. Setelah seluruh tahapan dilaksanakan sesuai tata titi upacara dan Kuna Dresta, krama selanjutnya akan mengikuti rangkaian karya hingga menuju puncak pelaksanaan.

Dengan tingginya partisipasi krama, pelaksanaan karya juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan masyarakat Desa Adat Songan. “Setiap tahapan dikerjakan secara gotong royong sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlangsungan tradisi, adat, dan kehidupan spiritual masyarakat,” ucapnya. (fkb/pas)

Shares: