KLUNGKUNG, FORUMKEADILANBali.com – Anggota DPRD Klungkung, Putu Tika Winawan mendorong Bupati Klungkung I Made Satria membuka ruang seluas-luasnya bagi putra-putri daerah yang selama ini berkarier di luar Klungkung pulang dan menunjukkan kemampuan mengabdi di tanah kelahirannya. Karena pengalaman dan kapasitas yang mereka peroleh di luar daerah dapat menjadi modal memperkuat pembangunan Klungkung.
Hal itu disampaikan Tika Winawan, Minggu (4/10/2026) menanggapi pergantian Sekda Klungkung, Anak Agung Gede Lesmana menjadi Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM serta penunjukan I Gusti Agung Gede Putra Mahajaya sebagai Penjabat Sekda.
Bupati Satria sebelumnya menyatakan pengisian Sekda definitif akan dilakukan melalui proses seleksi dan panitia seleksi (pansel), sehingga tidak dilakukan secara tergesa-gesa.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Klungkung yang membidangi SDM dan tata kelola pemerintahan itu, menilai keputusan Bupati Satria memberikan kesempatan kepada pejabat sebelumnya untuk menunjukkan kemampuan sebelum dilakukan pergantian, merupakan bagian dari evaluasi kinerja. Ia mengapresiasi langkah bupati menunjuk Pj. Sekda terlebih dahulu sehingga roda pemerintahan tetap berjalan sembari proses seleksi Sekda definitif disiapkan.
Menurut Tika Winawan, pengisian Sekda definitif nantinya harus mengedepankan sistem meritokrasi. Artinya, kapasitas, rekam jejak dan kemampuan menjalankan tugas harus menjadi pertimbangan utama. Ia menilai loyalitas kepada pimpinan menjadi bagian penting karena Sekda mempunyai posisi strategis dalam menjalankan roda pemerintahan. ”Senioritas saja tanpa loyalitas akan membuat pimpinan daerah tidak nyaman bekerja,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Sekda bukan hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi menjadi jembatan komunikasi antara bupati dengan DPRD, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perangkat daerah dan berbagai instansi lainnya. Karena itu, figur yang mengisi jabatan tersebut harus mampu membangun komunikasi dan menerjemahkan kebijakan kepala daerah ke dalam kerja birokrasi.
Tika Winawan menegaskan pengisian Sekda definitif tetap harus melalui mekanisme yang berlaku. Tidak boleh ada penunjukan langsung tanpa pembuktian kapasitas. ”Harus dibuktikan dulu kinerjanya. Tidak langsung didefinitifkan. Jadi belum tentu penjabat yang sekarang jadi definitif. Tetap melalui pansel,” katanya.
Dari pembahasan mengenai kebutuhan figur birokrasi itu, Tika Winawan menyinggung pentingnya membuka kesempatan bagi putra-putri Klungkung yang kini berkarier di berbagai daerah. Ia mengaku dalam sejumlah kunjungan kerja menemukan cukup banyak putra daerah yang memiliki pengalaman dan keinginan untuk bekerja secara kolektif membangun Klungkung.
Ia mnenjekaskan, putra daerah memiliki sense of crisis atau kepekaan terhadap persoalan dan kondisi genting yang dihadapi daerah. Kepekaan itu, menurutnya, dapat menjadi modal ketika mereka diberi ruang untuk ikut menyelesaikan persoalan daerah. Dalam konteks pemerintahan, sense of crisis berkaitan dengan kemampuan mengenali persoalan yang membutuhkan perhatian dan tindakan cepat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Tika Winawan menyebut sejumlah putra daerah yang menempati posisi strategis di luar Klungkung. Di antaranya Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Badung Komang Budhi Argawa, serta Kepala Dinas Sosial Kota Denpasar I Gusti Ayu Laksmi Saraswati. ”Banyak putra daerah kita yang moncer di luar daerah. Kenapa tidak diberi kesempatan menunjukkan kemampuan dan mengabdi di daerah sendiri,” paparnya.
Aatu nama, menurutnya memiliki latar belakang sangat relevan untuk dipertimbangkan pulang mengabdi di Klungkung, yakni I Made Udayana. Udayana merupakan putra daerah memiliki perjalanan panjang di bidang pelayanan kesehatan dan manajemen rumah sakit. Berdasarkan curriculum vitae yang dihimpun, ia merupakan ASN RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah sejak 2002. Kariernya dimulai dari perawat pelaksana, kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi manajerial, termasuk Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan Rawat Inap dan Asisten Manajer Pelayanan Penunjang Nonmedik. Sejak Mei 2026, ia menjabat Manajer Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah.
Latar pendidikannya juga lintas disiplin. Udayana menyelesaikan pendidikan Doktor Ilmu Manajemen Universitas Udayana pada 2023, Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat pada 2017, Profesi Ners pada 2014, Sarjana Ilmu Hukum pada 2009, serta pendidikan keperawatan sebelumnya.
Pengalamannya tidak berhenti pada manajemen rumah sakit. Udayana juga memiliki kompetensi di bidang hukum kesehatan, manajemen risiko rumah sakit, akreditasi, kegawatdaruratan, kediklatan dan peningkatan mutu pelayanan. Ia pernah terlibat dalam Tim Reaksi Cepat rumah sakit dalam penanganan Bom Bali I, Bom Bali II dan gempa Bantul, serta menjadi bagian dari tim pendamping survei akreditasi internasional Joint Commission International (JCI) 2013.
Dengan latar tersebut, Tika Winawan berharap Udayana bersedia kembali memberikan pengabdian di Klungkung. Ia meminta Bupati Satria mempertimbangkan putra daerah dengan pengalaman seperti Udayana untuk ikut memperkuat pelayanan kesehatan di daerah. ”Klungkung memanggil. Saya berharap Saudara Bupati mempertimbangkan beliau untuk mengabdi di Klungkung,” harapnya.
Tika Winawan mengatakan, apabila gagasan tersebut dapat direalisasikan, kontribusi yang diharapkan bukan sekadar menambah daftar pejabat atau mengisi struktur organisasi. Ia ingin pengalaman manajemen dan pelayanan kesehatan yang dimiliki Udayana dapat diterjemahkan menjadi perubahan yang dirasakan langsung masyarakat.
Salah satu yang menjadi sorotannya adalah penguatan fungsi puskesmas. Puskesmas harus benar-benar hidup dan berdaya, baik dari sisi pelayanan maupun pengelolaan, sehingga masyarakat merasakan perubahan kualitas layanan kesehatan ketika datang mendapatkan pelayanan. ”Harapannya setiap puskesmas menjadi lebih hidup, lebih berdaya, dan perubahan kualitas pelayanannya benar-benar dirasakan masyarakat. Bukan sekadar pelengkap administrasi,” tegasnya.
Tika Winawan memaparkan gagasan membuka ruang bagi putra daerah tersebut tidak hanya berkaitan dengan satu nama atau satu jabatan. Ia melihat Klungkung memiliki banyak sumber daya manusia yang telah menempa pengalaman di berbagai daerah dan institusi. Tantangannya adalah bagaimana pengalaman tersebut dapat dibawa pulang dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan daerah.
Proses seleksi pejabat maupun pengisian posisi strategis di Pemkab Klungkung, lanjut Tika Winawan, harus tetap berjalan berdasarkan mekanisme dan sistem merit. Pada saat bersamaan, ruang pengabdian bagi putra-putri Klungkung di seluruh Bali perlu dibuka agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kapasitas dan kontribusinya bagi daerah asal. (fkb/pas)

