DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Upacara Giri Pati Agung, Pegat Sot, dan Caru Panca Durga Ida Bethara Tangkas digelar Pratisantana Arya Kanuruhan Kota Denpasar di Pura Luhur Dalem Mutering Jagat, Kertalangu, Kesiman, Denpasar Timur, Sabtu (24/1/2026).
Rangkaian upacara dipuput dua sulinggih Rsi Wayahan dan Ida Pedanda Bodoh. Upacara diawali Pacanangan Ida Bhatara Tangkas dilaksanakan di Pura Kawitan Tangkas Pagan, dilanjutkan menuju Pura Luhur Dalem Mutering Jagat Kertalangu. Setelah itu, rangkaian upacara dilengkapi prosesi ngulapin di genah Pecak Kasedayan Tangkas Dimade sebagai bagian dari penyempurnaan yadnya.
Ketua Umum Pratisantana Sira Arya Kanuruhan, I Wayan Gredeg didampingi Bendahara Umum Pratisantana Arya Kanuruhan Kota Denpasar, Komang Nurjaya Maharta menjelaskan pelaksanaan upacara memiliki tujuan utama sebagai penyucian dan penetralan atas peristiwa-peristiwa masa lalu diyakini masih memiliki pengaruh secara niskala. ”Upacara ini bukan semata-mata karena adanya kutukan. Namun bentuk yadnya untuk menetralkan segala hal yang mungkin pernah terjadi akibat salah ucap, salah tindakan, atau peristiwa masa lampau. Tujuannya agar semuanya kembali netral, baik bagi leluhur, alam semesta, maupun gumi atau dunia,” kata Gredeg.
Ia menyampaikan upacara dilaksanakan demi terciptanya keharmonisan seluruh unsur kehidupan di bumi. Bagi Pratisantana Arya Kanuruhan Kota Denpasar, pelaksanaan Upacara Giri Pati Agung ini merupakan yang pertama kali. Sebelumnya upacara serupa pernah digelar Arya Wangbang Pinatih tahun 2015 di lokasi yang sama.
Lebih lanjut dikatakan, pemilihan Pura Luhur Dalem Mutering Jagat Kertalangu sebagai lokasi upacara memiliki keterkaitan erat dengan sejarah leluhur Arya Kanuruhan. Di wilayah Kertalangu ini terdapat jejak kerajaan pada masa lalu, mulai dari raja di Dalem Samplangan, Dalem Segening, hingga masa pemerintahan Arya Wangbang Pinatih dan Arya Tangkas dari Puri Agung. ”Tempat ini merupakan lokasi wafatnya anak raja pada masa lampau akibat kesalahpahaman dalam membaca sandi atau pesan kerajaan dari Puri Klungkung. Karena peristiwa itulah, secara niskala diyakini meninggalkan jejak yang perlu disucikan melalui upacara yadnya,” ungkapnya.
Dijelaskannya Arya Kanuruhan memiliki tiga garis keturunan utama, yakni Blangsinga, Tangkas, dan Pegatepan. Dari ketiga garis tersebut, Arya Tangkas ditugaskan menjadi raja di wilayah Kertalangu. Hal ini menjadi dasar kuat pelaksanaan upacara di lokasi tersebut, sekaligus sebagai sarana untuk mempererat ikatan persaudaraan seluruh Pratisantana Arya Kanuruhan se-Bali.
Kehadiran Ida Dalem Semara Putra dimaknai sebagai bentuk penyaksian secara niskala atas hubungan sejarah antara Puri Klungkung dan keturunan Tangkas. Dikisahkan bahwa pada masa lalu, anak raja yang diberikan kepada Tangkas mengalami peristiwa tragis, di mana pengorbanan tersebut dilakukan sebagai bentuk penebusan rasa bersalah sang istri raja saat itu tengah mengandung. Anak tersebut kemudian diberi nama Pangeran Tangkas Puri Agung Pagan, yang hingga kini menjadi bagian penting dalam sejarah dan spiritualitas keturunan Tangkas. ”Harapan kami, seluruh rangkaian upacara yang dilaksanakan ini dapat berjalan sesuai dengan sastra dan tattwa yadnya, tanpa kekurangan apa pun, serta membawa kebaikan bagi seluruh umat,” ucapnya.
Sementara itu, Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara didampingi Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menyampaikan harapannya agar pelaksanaan Upacara Giri Pati Agung dapat memberikan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh umat, khususnya masyarakat Kota Denpasar. ”Semoga melalui pelaksanaan yadnya ini, keharmonisan antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa terjaga, serta memberikan kerahayuan bagi kita semua. Rahajeng rahayu,” ucap Jaya Negara. (pas)

