Nasional

Wawali Arya Wibawa Buka Mel Tanjung Kite Festival XVII, Dorong Pelestarian Tradisi Malayangan Sebagai Wahana Kreativitas Rare Angon
Diterbitkan: 9 Agustus 2026, 18:33

DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa membuka lomba Layang-layang Mel Tanjung Kite Festival (MTKF) XVII 2026 dengan menarik layangan di kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan digelar ST. Eka Dharma, Banjar Tanjung, Desa Sanur Kauh ini menjadi wadah pelestarian tradisi malayangan sekaligus ruang ekspresi kreativitas budaya bagi para pelayang atau rare angon di Bali, khususnya Kota Denpasar.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar yang juga selaku Pembina Mel Tanjung Kite Festival, I Wayan Mariyana Wandhira, Anggota DPRD Provinsi Bali AA Gede Agung Suyoga, Camat Denpasar Selatan Ida Bagus Made Purwanasara, Perbekel Desa Sanur Kauh I Made Ada, Bendesa Adat Intaran I Gusti Agung Alit Kencana, serta undangan lainnya.

Suasana lomba tampak semarak dengan para peserta yang sibuk mempersiapkan layangan untuk diterbangkan. Usai membuka kegiatan secara resmi, Wakil Walikota Arya Wibawa menyaksikan jalannya perlombaan diawali dengan seri Layangan Tradisional Janggan Remaja. Meski kondisi angin belum berhembus optimal, para pelayang tetap menunjukkan strategi dan keterampilan dalam mempertahankan layangan agar tetap mengudara.

Pembina Mel Tanjung Kite Festival, I Wayan Mariyana Wandhira, didampingi Ketua Panitia I Made Gde Jisnu Bajasangga Wandhira, mengatakan MTKF XVII 2026 mengusung tema ”Bhumi Samudra Akasa Sanggama” bermakna keharmonisan antara darat, laut, dan udara sebagai fondasi lahir dan lestarinya budaya dari generasi ke generasi. ”Pelaksanaan kegiatan ini merupakan wahana untuk memberikan ruang gerak kepada para pelayang agar dalam bermain layangan tetap mengedepankan rasa tanggung jawab serta meningkatkan rasa kebersamaan di antara generasi muda dan masyarakat pelayang pada khususnya,” ujarnya.

Wandhira mengatakan, lomba tahun ini menghadirkan kategori remaja dan dewasa dengan beragam jenis layangan tradisional maupun kreasi. Di antaranya layangan tradisional Bebean, Bebean Big Size, Janggan, Janggan Buntut, Janggan Buntut Big Size, Pecuk, hingga seri khusus layangan mini. Khusus layangan tradisional, peserta diwajibkan menggunakan kain dengan corak warna Bali, yakni merah, kuning, hitam, dan putih. Selain itu, diperlombakan seri layangan plastik, layangan celepuk, dan layangan mini size.

Baca Juga :  Walikota Jaya Negara Hadiri Lomba Penjor dan Ngelawar STT Se-Desa Dangin Puri Kangin,

Ia menjelaskan peserta tahun ini berasal dari sekaa, klub, maupun perorangan mencapai 1.685 layangan dari berbagai jenis tradisional dan kreasi. Semoga kegiatan yang digelar selama tiga hari ini berjalan lancar untuk melestarikan tradisi melayangan sekaligus memberikan ruang ekspresi bagi rare angon. ”Selama 17 tahun perjalanan Mel Tanjung Kite Festival, kami berkomitmen terus profesional dan meningkatkan kualitas kegiatan setiap tahunnya,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa memberikan apresiasi pelaksanaan MTKF XVII 2026. Menurutnya, lomba telah menjadi agenda rutin tahunan tersebut memiliki peran penting dalam mendukung pelestarian seni dan tradisi melayangan di Kota Denpasar.

Arya Wibawa menegaskan Pemerintah Kota Denpasar, baik secara kelembagaan maupun dirinya secara pribadi, terus berkomitmen mendukung pelestarian tradisi melayangan. Selain menjadi wadah kreativitas masyarakat, melayangan juga dapat menjadi wahana hiburan sekaligus atraksi budaya yang mendukung keberlangsungan pariwisata berbasis budaya di Bali, khususnya Kota Denpasar.

Arya Wibawa mengatakan, pihaknya mendukung dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini sebagai wahana ekspresi dan kreativitas budaya bagi para pelayang yang dikenal sebagai rare angon. Layang-layang tradisional merupakan salah satu potensi budaya masyarakat yang memiliki ciri dan keunikan tersendiri. ”Tradisi ini mendorong munculnya kreativitas dan inovasi baru yang bermuara pada kelestarian budaya serta mendukung kemajuan pariwisata berbasis budaya,” ucap Arya Wibawa.

Ia berharap pelaksanaan MTKF dapat terus berkembang secara konsisten dari tahun ke tahun, tidak hanya dari sisi penyelenggaraan dan kualitas perlombaan, tetapi juga dalam memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan tradisi melayangan sebagai bagian dari kekayaan budaya Bali. (pas)

Shares: