DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Memeriahkan Bulan Bung Karno 2026 dan memberikan ruang kreativitas bagi desainer, Dekranasda Kota Denpasar bersama Disperindag Kota Denpasar kembali menggelar Denpasar Fashion Street (DFS). Ajang fashion tahunan memasuki penyelenggaraan kali ketiga ini akan dilaksanakan pada 6 Juni 2026 mendatang di Kawasan Patung Dewi Melanting, Pelataran Pasar Badung, Denpasar.
Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara bersama Wakil Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa mengumpulkan para desainer yang terlibat melihat langsung hasil rancangan busana di Gedung Graha Sewaka Dharma Lumintang, Jumat (29/5/2026).
Penyelenggaraan tahun ini, DFS melibatkan 10 desainer lokal masing-masing menampilkan 10 rancangan busana terbaik mereka. Beragam karya yang ditampilkan mengusung kreativitas tinggi dengan sentuhan inovatif berbahan kain perca dikreasikan menjadi busana, tas, aksesori hingga berbagai ornamen fashion lainnya.
Ny. Antari Jaya Negara mengatakan hasil karya para desainer muda Denpasar luar biasa dan menunjukkan perkembangan industri fashion kreatif semakin menjanjikan. ”Hasil karya para desainer luar biasa. Kreativitas ditampilkan mampu mengolah kain perca menjadi busana yang elegan, unik dan bernilai tinggi. Ini membuktikan bahwa desainer Kota Denpasar memiliki potensi besar dan mampu bersaing dengan tetap mengedepankan inovasi serta kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia menyampaikan Denpasar Fashion Street menjadi ruang strategis para desainer lokal menampilkan karya terbaik sekaligus memperkuat Denpasar sebagai kota kreatif berbasis industri fashion. ”Kami berharap kegiatan ini mampu membuka peluang lebih luas bagi para desainer muda menunjukkan hasil karyanya kepada masyarakat. Produk fashion lokal dapat semakin dikenal dan digunakan dalam berbagai kegiatan maupun event,” katanya.
Sementara itu, Kepala Disperindag Kota Denpasar, Ni Nyoman Sri Utari menjelaskan sebelum ditampilkan pada ajang DFS, seluruh rancangan para desainer telah melalui beberapa kali proses pembahasan dan kurasi bersama desainer senior. ”Sebelum ditampilkan, kami sudah beberapa kali melaksanakan rapat bersama para desainer senior untuk memberikan arahan terkait busana yang akan dipresentasikan. Yang spesifik pada DFS adalah mengkolaborasikan desain busana dengan pemanfaatan kain perca,” ujarnya.
Menurut Sri Utari, konsep tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pengurangan sampah tekstil melalui pemanfaatan kembali sisa-sisa kain menjadi produk fashion bernilai ekonomis. ”Sekarang kita menghadapi persoalan sampah, sehingga tema yang kami angkat adalah bagaimana memanfaatkan kain perca agar tidak ada material yang terbuang sia-sia. Kain perca diolah menjadi tas, aksesori hingga busana dengan desain unik sehingga tidak terlihat sebagai bahan sisa,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh karya akan ditampilkan merupakan hasil kurasi dan pembinaan tim kurator desainer sehingga menghasilkan rancangan yang siap dipamerkan kepada publik. ”Ini salah satu upaya kami mempromosikan produk-produk fashion hasil karya desainer Kota Denpasar sekaligus menegaskan Denpasar sebagai salah satu industri unggulan di bidang fashion,” paparnya. (pas)

