B20-G20 Dialogue Finance & Infrastructure Task Force, Perlu Kerjasama Global Bangun Infrastruktur

FORUM Keadilan Bali – Business 20 (B20) adalah business engagement group dari Government 20 (G20). B20-G20 Dialogue Finance & Infrastructure Task Force untuk membawa pembahasan deklarasi multilateral yang telah didiskusikan oleh B20 Finance & Infrastructure Task Force kepada G20 Finance Track Working Group.

Wakil Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, investasi di bidang pembangunan infrastruktur sangat penting dan menjadi prioritas bagi Indonesia karena memberikan multiplier effect.

Menurutnya, ada tiga aspek yang penting buat Indonesia. Pertama, akan berdampak pada peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat. Kedua, memastikan pembangunan yang lebih inklusif di mana pembangunan di sektor infrastruktur harus menjadi program bersama dunia internasional. ”Investasi global di bidang infrastruktur akan dapat mengatasi ketimpangan infrastruktur dari negara-negara di dunia,” kata Amalia kepada media di sela-sela acara B20-G20 Dialogue Finance & Infrastructure Task Force dalam rangka menjelang KTT G-20 untuk mengundang para investor berinvestasi di Indonesia di Sofitel Nusa Dua, kamis (14/7).

Hadir dalam acara tersebut antara lain M. Arsjad Rasjid P.M. selaku Chairman of Indonesian Chamber of Commerce and Industry (KADIN) dan Mari Elka Pangestu World Bank Managing Director of Development Policy and Partnerships.

Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan, adanya jaringan investasi infrastruktur yang sudah mengglobal maka tidak ada negara yang mengalami ketimpangan infrastruktur. Untuk itu, forum ini sangat bermanfaat untuk menjembatani antara pemerintah dan swasta dalam membangun infrastruktur ke depan. Beberapa yang bisa dilakukan adalah energi hijau atau blue energi, teknologi pengolahan sampah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi bernilai ekonomi. ”Banyak negara sudah melakukan hal tersebut. Isu ekonomi hijau sudah saatnya dipercepat. Namun ini membutuhkan jaringan yang kuat secara global. Negara-negara harus saling mendukung dan melindungi,” jelasnya.

Baca Juga :   Peringatan Hari Ibu, Kota Denpasar Raih Penghargaan Nasional DRPLA Kategori Utama

Indonesia sebagai Presidensi KTTG-20, kata Amalia Adininggar Widyasanti, harus melahirkan legacy dan lebih kepada aksi nyata untuk menyatakan bahwa green economy sebagai program utama. Saat ini banyak negara-negara di dunia sudah menggulirkan isu green economy. Bahkan banyak proyek prioritas untuk green economy.

Sementara B20 Finance and Infrastructure Task Force Chair dan CEO of Indonesia Investment Authority (INA) Ridha D.M. Wirakusumah menyatakan, sudah saatnya investasi di bidang infrastruktur membutuhkan jaringan global. Ia mencontohkan, Indonesia pernah membangun 2.000 kilometer jalan tol selama beberapa tahun terakhir. Pembangunan ini membutuhkan pengorbanan besar dan biaya yang tinggi. Infrastruktur ini sangat penting bagi masyarakat memberikan banyak benefit bagi masyarakat. ”Perlu kerjasama global baik pemerintah Indonesia, perbankan,  sektor swasta juga jaringan seluruh dunia. Sebab banyak dana-dana yang bisa dikumpulkan dari luar negeri atau dalam negeri yang bisa dipertanggungjawabkan secara baik,” ujarnya.

Ketika disinggung dampak B20 bagi Bali, Wirakusumah menjelaskan, hasil pertemuan itu akan dibawa ke pusat. Nanti pusat akan menentukannya.

Dia menerangkan, Business 20 (B20) adalah business engagement group dari Government 20 (G20) yang beranggotakan lebih dari 900 perusahaan global. B20-G20 Dialogue Finance & Infrastructure Task Force bertujuan untuk membawa pembahasan deklarasi multilateral yang telah didiskusikan oleh B20 Finance & Infrastructure Task Force kepada G20 Finance Track Working Group. ”Kami harapkan para pembuat kebijakan dan sektor keuangan global dapat berkolaborasi dalam kemitraan untuk menjembatani kesenjangan infrastruktur dan mendorong peningkatan akses publik ke sumber pembiayaan yang terjangkau dan sesuai,’’ harapnya.