DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Tawur serangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung dan Tawur Balik Sumpah Utama di Pura Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur, Kamis (28/5/2026).
Suasana khidmat dan penuh kebersamaan mewarnai jalannya karya tawur tersebut. Krama adat bergotong royong mengikuti setiap rangkaian upacara sebagai wujud sradha bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota DPD RI Perwakilan Bali, Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Anggota DPRD Kota Denpasar I Made Mudra, serta tokoh masyarakat setempat.
Upacara dipuput sejumlah sulinggih, yakni Ida Pandita Empu Padma Ananda Griya Sumerta, Ida Rsi Bujangga Waisnawa Tembau Griya Batur Tembau, Ida Pandita Empu Siwa Ananda Griya Kroya, Ida Rsi BW Putra Sara Shri Satya Joti Griya Buana Santhi Sesetan, Ida Pedanda Putra Bajing Griva Tegal Jingga, Ida Rsi Agung Wayabya Karang Griya Buda Buduk, Ida Rsi BW Kertha Bhuana Griya Glogor, Ida Pedanda Gede Made Putraka Timbul Griya Timbul Kesiman, serta Ida Pedanda Gede Putra Keniten Griya Tainsiat.
Rangkaian karya dimeriahkan gong lelambatan dan gambelan wali, wayang, serta pementasan Baris Gede oleh Paiketan Jero Bendesa Adat Kota Denpasar menambah kekhidmatan suasana upacara.
Disela kegiatan, Walikota Jaya Negara tampak ngayah menarikan Topeng Wali bersama krama adat setempat dan diakhiri dengan penandatanganan prasasti serta penyerahan punia.
Walikota Jaya Negara mengapresiasi semangat gotong royong dan kebersamaan krama Desa Adat Sumerta dalam menjaga serta melestarikan adat, tradisi, dan budaya Bali. Menurutnya, pelaksanaan karya tidak hanya menjadi sarana meningkatkan sradha dan bhakti umat, namun memperkuat nilai menyama braya di tengah masyarakat. ”Pelaksanaan karya seperti ini merupakan wujud nyata pelestarian adat, tradisi dan budaya Bali diwariskan turun-temurun. Semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat tentu menjadi kekuatan penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan,” ujar Jaya Negara.
Sementara itu, Jro Bendesa Adat Sumerta, I Made Ariawan Payuse menjelaskan rangkaian karya telah dimulai sejak 16 April 2026 diawali prosesi nyukat genah dan berbagai tahapan upacara lainnya. Sebelum puncak karya, pihaknya telah melaksanakan prosesi melasti bagian dari penyucian sarana dan prasarana upacara.
Ia mengatakan, puncak karya akan dilaksanakan pada 31 Mei 2026 bertepatan dengan Purnama Sadha. Upacara tersebut merupakan Karya Utama Mamungkah, Ngenteg Linggih, dan Tawur Agung Balik Sumpah Utama. ”Upacara Mamungkah dan Ngenteg Linggih di pura merupakan pertama kali dilaksanakan setelah puluhan tahun. Bahkan sebelumnya belum pernah dilaksanakan sama sekali. Ini menjadi tonggak sejarah penting bagi Desa Adat Sumerta,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, skala upacara tergolong besar atau tingkatan utama, setara dengan pelaksanaan karya di Pura Dalem maupun pura-pura Kahyangan Desa lainnya. Pelaksanaan karya juga melibatkan kerja sama erat antara wilayah Sumerta, Tanjung Bungkak dan Pagan.
Menurutnya, secara historis wilayah Sumerta Gede dahulu mencakup sekitar 21 banjar adat. Dalam pelaksanaan karya besar seperti ini, semangat saling membantu antarkrama adat tetap dijaga dan diwariskan hingga kini. ”Pelaksanaan upacara kami dibantu penuh warga Tanjung Bungkak dan Pagan, termasuk melibatkan seluruh pemangku di Pura Kahyangan Desa setempat menyelesaikan seluruh rangkaian upakara,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan sastra dan tradisi diwariskan, upacara besar seperti Ngenteg Linggih idealnya dilaksanakan setiap 30 tahun sekali. Karena upacara ini baru pertama kali dilaksanakan di pura tersebut, pihak desa adat belum dapat memastikan kapan pelaksanaan serupa akan kembali digelar.
Payusa menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Walikota Denpasar beserta jajaran Pemerintah Kota Denpasar yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan karya tersebut. (pas)

