Nasional

Ngayah Tanpa Pamrih, Gubernur Koster Bantu Seragam 503 Pecalang Buleleng
Diterbitkan: 8 Februari 2026, 22:56

Segera Alokasikan Insentif Rp50 Juta Tiap Desa Adat

BULELENG, FORUMKEADILANBali.com – Bertepatan perayaan Tumpek Uye, Sabtu (7/2/2026), Gubernur Bali Wayan Koster bertatap muka dengan pecalang di Desa Adat Buleleng.

Dalam pertemuan berlangsung di Setra Desa Adat Buleleng itu, Gubernur Koster menyerahkan bantuan seragam kepada 503 pecalang dari 14 Banjar Adat di Desa Adat Buleleng.

Seragam lengkap terdiri dari udeng, baju, kamen hingga saput senilai Rp250 juta merupakan dukungan dari Perumda Kertha Bali Saguna. Bantuan seragam ini bentuk penghargaan atas dedikasi pecalang selama ini ngayah tanpa pamrih.

Selain Desa Adat Buleleng, Gubernur Koster akan memberikan bantuan seragam bagi seluruh pecalang se-Bali yang jumlahnya lebih dari 20 ribu orang.

Di tengah-tengah pembagian seragam, Gubernur Koster membuka sesi dialog berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Dalam sesi dialog, seorang pecalang menyinggung realisasi pemberian insentif bagi para pecalang di desa adat.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Koster menegaskan pecalang memiliki peran sangat penting sebagai ujung tombak pengamanan adat dan mendamaikan masyarakat Bali. Bahkan dalam berbagai kondisi mendesak, pecalang sering dilibatkan pemerintah di luar peran TNI dan Polri. ”Kontribusi pecalang sangat besar. Karena itu, saya memikirkan bagaimana memberi perhatian yang layak kepada pecalang melalui desa adat,” ujar Koster.

Gubernur Koster mempermaklumkan kalau pemberian insentif belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Pemerintah Provinsi Bali masih melakukan perhitungan kemampuan anggaran, di tengah kewajiban menyelesaikan sejumlah program prioritas pembangunan. ”Mudah-mudah 2027 atau paling lambat 2028 bisa direalisasikan. Tidak bisa hanya satu kabupaten, harus se-Bali,” tegas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini.

Ditambahkan, dana Rp50 juta per desa adat itu khusus dialokasikan sebagai insentif pecalang, bukan kepentingan lain. Program tersebut, kata Koster, sudah masuk dalam perencanaan dan pembahasan lintas pihak. ”Saat ini masih banyak harus dikerjakan, seperti perbaikan jalan dan infrastruktur. Mohon sabar dulu,” katanya.

Baca Juga :  Desa Padangsambian Kelod Targetkan 100 Titik Pembuatan Teba Modern Sasar Banjar dan Tempat Umum

Koster menekankan pentingnya peran desa adat dan pecalang sebagai fondasi utama kelangsungan Bali. Desa adat disebutnya sebagai penyangga adat, budaya, dan kearifan lokal agar tidak tergerus arus modernisasi. ”Kalau tidak ada desa adat, Bali mungkin tidak bisa eksis seperti sekarang. Ini membedakan Bali dengan daerah lain,” papar Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.

Sementara Kelian Desa Adat Buleleng menyampaikan terima kasih atas perhatian ditunjukkan Gubernur Koster. ”Dukungan ini sangat berarti bagi kami, pecalang sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban desa,” ucapnya.

Rasa bangga dan haru juga diutarakan sejumlah pecalang yang hadir dalam acara tersebut. Pecalang Banjar Adat Kalintu I Nengah Bagus Mahendra bersama Pecalang Banjar Adat Banjar Jawa Made Dwi Arsa Nata mengatakan, selama ini masing-masing pecalang di banjar adat sudah punya seragam yang berbeda-beda.

Dengan seragam baru dari Gubernur Bali ini, ia merasa lebih gagah dalam melaksanakan tugas. ”Sekarang seragam sudah satu pasikian pecalang Bali, kami merasa lebih layak dan gagah,” ujar Dwi Arsa.

Terkait rencana pemberian insentif, para pecalang berharap janji pemerintah segera  terwujud. Alasannya, selama ini pecalang murni ngayah untuk kepentingan adat tanpa menerima insentif.

Dalam pertemuan tersebut hadir Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra beserta istri, Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, Anggota DPRD Bali asal Buleleng Gede Kusuma Putra dan anggota DPRD Buleleng Ni Kadek Turkini, prajuru dan pecalang Desa Adat Buleleng. (fkb/pas)

Shares: