Penderita Penyakit Ginjal Kini tak Perlu Lagi Dirujuk ke Denpasar

FORUM Keadilan Bali – Instalasi Hemodialisis kini telah hadir di Buleleng mengingat penyakit ginjal kronis merupakan penyakit global yang makin meningkat dari hari ke hari. Wakil Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra  menyatakan, kehadiran Instalasi Hemodialisis ini sebagai salah satu bentuk komitmen Pemerintah Daerah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Gedung baru Hemodialisis ini mampu menampung sekitar 60 pasien untuk satu kali shift, mudah-mudahan dengan pengembangan ini yang juga merupakan misi dari RSUD Buleleng untuk menjadi rumah sakit rujukan regional dan rumah sakit tipe A akan terwujud. Untuk itu, dari Pemerintah Daerah akan selalu mendukung apa yang dilakukan direksi beserta jajarannya untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas yang ada di RSUD Kabupaten Buleleng,” ungkap Sutjidra saat meresmikan Gedung Hemodialisis dan Launching E-Parkir di RSUD Kabupaten Buleleng, Kamis (21/7) ini.

 “Tentu saja sarana dan prasarana harus ditingkatkan  dan juga SDMnya, ini sudah bertahap dilakukan oleh bapak direktur beserta jajarannya dan saya sangat mengapresiasinya karena hari ini bisa meresmikan gedung ini,” harapnya.

Gedung ini disebutnya sangat membantu masyarakat yang menderita gagal ginjal dan tidak perlu lagi ke  Denpasar untuk cuci darah dan cukup di Singaraja. Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RSUD Kabupaten Buleleng,  Putu Arya Nugraha mengatakan penambahan jumlah unit pelayanan cuci darah kini mencapai 60 bed dari sebelumnya yang hanya 24 bed saja. Dengan penambahan ini selama satu bulan sekitar seribu lebih tindakan cuci darah bisa dilayani.

“Dengan semakin banyaknya tindakan yang dilakukan kami akan memberlakukan dua shift yaitu pagi dan sore. Shift malam tidak kami berlakukan mengingat itu kurang baik bagi kesehatan nakes dan pasien itu sendiri,” ungkapnya.

Baca Juga :   Kasus DBD Meningkat, Puskesmas II  Denpasar Selatan Edukasi Penanganan DBD

Saat ini tren kasus gagal ginjal kronis yang memerlukan cuci darah semakin meningkat, karena penyakit metabolik yang menjadi dasar penyakit gagal ginjal juga semakin banyak seperti, kencing manis, darah tinggi, batu ginjal dan sebagainya.

“Jadi sudah ada tren dan kita sudah yakin bahkan 60 bed hari ini akan dirasa kurang dan kita akan berupaya melakukan pengembangan lagi,”sambungnya.

Disinggung mengenai anggarannya, Dirut Arya Nugraha mengatakan, biaya yang dipakai merupakan biaya dari rekanan melalui Kerjasama Operasi (KSO) atas seizin pemerintah daerah. Selain itu rekanan juga memberikan unit mesin dialisis serta segala perlengkapannya dan juga pembangunan gedung dengan perkiraan biaya kurang lebih sebesar dua miliar rupiah.

Untuk menjadi rumah sakit regional, pihaknya harus menyiapkan ruang maupun SDMnya yakni  perencanaan ruang jantung terpadu, stroke center dan kanker terpadu.

“Untuk kanker terpadu sendiri sebenarnya ruangan sudah bisa kita siapkan, namum kita perlu penambahan  SDM yaitu ahli kanker di bidang penyakit dalam, sementara kita hanya punya ahli kanker di bidang bedah saja. Ke depan kita harapkan bisa memiliki semuanya agar masyarakat Buleleng tidak perlu lagi ke Denpasar untuk berobat,” pungkasnya.  

Di sisi lain, guna mendukung pengembangan digitalisasi di era globalisasi sebagai faktor yang menentukan determinan, transparansi, dan akuntabilitas yang sesuai kebijakan Pemerintah Kabupaten Buleleng. RSUD Kabupaten Buleleng juga ikut mengembangkan parkir digital atau yang dikenal dengan e-parking yang sudah berjalan sejak beberapa bulan lalu.