TABANAN, FORUMKEADILANBali.com – Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Provinsi Bali dipimpin Ny. Seniasih Giri Prasta terus mengawal perlindungan perempuan dan anak, khususnya pada masa remaja memberikan sosialisasi pendalaman dan pemahaman terkait dampak seks bebas dan pernikahan dini, di SMA Negeri 1 Penebel, Tabanan, Senin (6/4/2027).
Salah satu faktor terjadi kekerasan pada perempuan, anak, bahkan laki-laki adalah pernikahan dini dilakukan remaja yang belum siap secara usia, mental, maupun ekonomi.
Pernikahan dini cenderung terjadi akibat remaja yang melakukan hubungan seksual di luar nikah (seks bebas), dipicu kurangnya pengetahuan terkait dampak serta rasa penasaran.
Ny. Seniasih Giri Prasta menyampaikan pengetahuan terkait seks saat ini bukanlah hal tabu, melainkan penting untuk diberikan kepada remaja putra dan putri. ”Kita jangan malu membahas pengetahuan tentang seks, karena dengan mengetahui dampak dan bahaya seks bebas atau seks di luar nikah akan memberikan pemahaman sejak dini. Kita tidak boleh menutup telinga dan diri mencari tahu bahaya serta dampaknya,’’ katanya.
”Jika rasa penasaran mendorong kita melakukan hubungan di luar nikah, bukan hanya diri sendiri (terutama remaja putri) yang dirugikan akibat kehamilan. Tetapi dapat memengaruhi kesehatan reproduksi dan bayi yang akan dilahirkan. Selain itu, menikah muda akibat kehamilan juga dapat memutus masa depan cerah yang seharusnya bisa direncanakan dengan baik,” tegasnya.
Ny. Seniasih Giri Prasta menambahkan bila rasa penasaran tersebut dituruti hingga menyebabkan kehamilan, pasangan tidak perlu larut dalam penyesalan dan ketakutan. Namun, pasangan tersebut harus memiliki rasa tanggung jawab untuk menikah secara resmi agar tidak menimbulkan permasalahan baru. Menikah muda akibat ”kecelakaan’’ atau kehamilan di luar nikah akan berdampak pada ketidaksiapan mental dan ekonomi bagi calon pasangan. ”Hal ini kerap memicu perselisihan, pertengkaran, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan perceraian. Karena itu, remaja masih memiliki kesempatan belajar sebaiknya tetap fokus pada pendidikan serta membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan,” imbuhnya.
Ia mengatakan menikah pada usia dini sama artinya dengan memiskinkan diri sendiri, karena umumnya belum memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap sehingga kondisi ekonomi menjadi tidak stabil.
Ny. Seniasih Giri Prasta berpesan agar para remaja menggunakan alat telekomunikasi (handphone) secara bijak. Pasalnya, perangkat tersebut memberikan berbagai kemudahan, baik untuk mengakses informasi, permainan, maupun hiburan.
Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ni Kadek Anggradewi, menyampaikan pernikahan dini berdampak kurang baik bagi kesehatan reproduksi remaja yang belum cukup umur. Rahim yang belum matang berisiko tidak mampu menyangga janin dengan optimal, sehingga dapat menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur.
Sementara itu, Yande Prayoga dari Himpunan Psikolog Indonesia Daerah Bali berpesan agar remaja tetap mengawal cita-cita yang ingin diwujudkan. Dengan demikian, mereka dapat tetap fokus dan tidak mudah terpengaruh oleh urusan asmara yang berpotensi mendorong perilaku di luar kendali, seperti seks bebas, yang dapat berdampak pada kesehatan mental serta masa depan remaja. (fkb/pas)

