Nasional

Harga Kopi Gelondongan Melejit, Petani Sumringah
Diterbitkan: 27 April 2026, 18:16

BANGLI, FORUMKEADILANBali.com – Harga kopi gelondongan petik merah kini mencapai Rp22 ribu per kilogram di tingkat petani. Harga ini tergolong tinggi dan diperkirakan masih akan berpotensi mengalami kenaikan dalam beberapa minggu ke depan.

Tingginya harga kopi gelondongan petik merah tersebut disambut gembira para petani kopi Kintamani. Kerja keras yang selama ini mereka pertaruhkan akhirnya berbuah manis. Harga kopi benar-benar manis. ”Saat ini harganya tergolong tertinggi dalam beberapa tahun belakangan ini,” ungkap Eka Putra, salah seorang petani kopi asal Desa Gunungbau, Kintamani saat dihubungi Senin( 27/4/2026).

Eka Putra mengatakan, dirinya sebagai petani berharap harga tersebut tetap konsisten hingga akhir panen mendatang. Ia mengaku optimis harga kopi di pasaran akan terus mengalami kenaikan sejalan dengan kebutuhan pasar kopi baik di pasar domestic maupun pasar eksport. ”Bagi kami petani, berharap harga komoditas ini bertahan meskipun flukstuasi itu bisa terjadi karena harga pasar sangat dipengaruhi perkembangan dunia,” ujarnya seraya menambahkan, menjamurnya coffe shop serta tred ngopi di kedai kopi bagi kalangan generasi muda berdampak positif terhadap harga kopi.

Terkait proses petik merah saat ini telah menjadi trend di kalangan petani kopi, sejumlah petani mengakui melalui proses petik merah selain memberikan manfaat bagi tanaman kopi itu sendiri berdampak pada kualitas biji kopi yang dihasilkan. ”Sejak beberapa tahun petani kopi Kintamani terbiasa dengan petik merah. Sangat jarang ada petani kopi di Kintamani melakukan petik dengan cara rut,” ungkap Wayan Darmada, salah seorang petani dan dibenarkan Eka Putra.

Sebagaimana diketahui, KIntamani menjadi salah satu produsen kopi arabika ternama di Bali, bahkan di Indonesia. Kopi Kintamani seakan menjadi brand mampu menembus pasar ekspor bahkan sejak beberapa tahun silam. Selain memiliki luasan yang memadai, Kintamani sempat menjadi salah satu kabupaten memiliki pabrik pengolakan biji kopi untuk pasar eksport ke sejumlah negara di Eropa. Sebuah prestasi yang sulit karena ketatnya persaingan biji kopi berkualitas dunia. Luasan penanaman kopi arabika di Kintamani sempat mengalami penyusutan paska berkembangkan komoditas baru, seperti Jeruk beberapa tahun silam. Namun kondisi ini tidak lama bertahan menyusun anjloknya harga buah jeruk di pasaran sehingga warga banyak mengembalikan lahan mereka untuk budidaya kopi.  (jel)

Baca Juga :  Sekda Adi Arnawa Hadiri Karya Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya MGPSSR Desa Pererenan
Shares: