BULELENG, FORUMKEADILANBali.com – Meski sering dibayangi fluktuasi harga, namun komoditas bunga kembang seribu atau Tagetes erecta di sejumlah kawasan di Kabupaten Buleleng sepertti di Desa Gobleg, Munduk dan Wanagiri ternyata menjadi penyelamat ekonomi warga. Pasalnya, kebutuhan bunga kembang seribu di pasar cukup tinggi, baik memenuhi kebuhan hari raya umat hindu atau rerahinan, maupun keperluan dekorasi.
Sejumlah petani bunga kembang seribu ketika ditemui membenarkan jika selama ini komoditas ini memberikan manfaat ekonomis tinggi bagi petani. ”Sering bunga ini menjadi penyelamat kami di tengah kondisi ekonomi kurang mendukung,” ungkap I Kadek Budi, salah seorang petani bunga.
Ia menjelaskan budidaya bunga kembang seribu di sejumlah wilayah di Buleleng, khususnya di daerah dataran tinggi berlangsung sejak puluhan tahun silam. Komoditas ini menjadi andalan petani khususnya menjelang hari besar keagamaan seperti Galungan, Kuningan maupun hari besar lainnya. ”Harga bunga sangat bergantung pada momentum yang terjadi. Misalnya menjelang Galungan, Kuningan, atau rerahinan jagat lainnya dipastikan akan cukup tinggi,” ujar Budi seraya menambahkan sebaliknya momen hari besar keagamaan tidak ada harga bisa anjlok.
Budi menuturkan budidaya bunga Kembang seribu gampang-gampang susah. Gampang karena mudah tumbuh dan berkembang di daerah pegunungan dengan kondisi tanah gembur dan tidak terlalu basah. Proses pemeliharaanya relatif gampang karena tidak membutuhkan perlakuan khusus seperti halnya tanaman lain. Namun kondisi akan menantang saat musim kemarau. ”Banyak tanaman akan kekeringan dan layu. Jika kemarau berlangsung lama berpotensi membuat tanaman mati,” ucapnya.
Ia mengaku pemasaran bunga ini relatif gampang. Hampir di setiap desa sentra penghasil bunga kembang seribu seperti di Banjar Asah Gobleg, Asah Munduk, Wanagiri dan sekitarnya memiliki pengepul yang membeli hasil tanaman petani. Selanjutnya, para pengepul ini memasarkan langsung ke sejumlah pasar tradisional yang tersebar di Bali, bahkan sampai ke Pasar Klungkung. ”Dari segi pemasaran tidak ada masalah. Banyak pengepul siap menampung hasil panen bunga kami,” imbuhnya.
Pantauan di sejumlah kawasan menunjukan hamparan bunga kembang seribu sering mewarnai pinggir ruas jalan Buleleng-Denpasar mulai dari Wanagiri, Munduk, Gobleg. Tak jarang hamparan perkebunan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan dengan mengabadikan diri berphoro di tengah hamparan kebun bunga.
Sejumlah petani mengakui, selain berpotensi untuk menjadi komoditas unggulan, lahan perkebunan juga berpotensi menjadi daya tarik wisatawan yang kebetulan lewat. (jel)

