Film

Film ”Melangkah Tanpa Suara”, Hadirkan Motivasi Bagi Disabilitas
Diterbitkan: 30 Agustus 2025, 18:02

DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Keterbatasan pendengaran atau keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk berkarya dan berkreasi. Karena di balik keterbatasan kadangkala ada anugerah talenta yang bisa dikembangkan membuat bermakna dan setara dengan anak lainnya. Bahkan bisa meraih prestasi melebihi yang normal.

Hal tersebut terungkap lewat penayangan film pendek bertajuk ”Melangkah Tanpa Suara” saat jumpat awak media di Denpasar Jumat (29/8/2025).

Film produksi On Camera Pictures dan Cycloop Entertainment ini dibintangi remaja Bali Ni Putu Sri Widya Meganatasya, yang akrab disapa Tasya, seorang siswi SLB Negeri 1 Badung.

Executive Produser Made Sukanaya yang juga ayah Tasya menegaskan keterbatasan sebuah perbedaan yang dapat menjadikan seseorang unik. “Pengembangan bakat dan minat dari anak yang memiliki keunikan ini memerlukan dukungan usaha, perjuangan, kerja keras serta doa tulus dari keluarga mengembangkan dan membukakan jalannya,” kata pria kelahiran Jimbaran ini.

Sukanaya menyampaikan pada prinsipnya semua anak, termasuk yang memiliki perbedaan dan kekhususan berhak berkarya, berprestasi dan berbahagia. Pada saatnya mereka akan dapat memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara sesuai bidangnya masing-masing.

Ia menuturkan film besutan Sutrada Menco Hidayat ini menghadirkan sosok Tasya yang menjadi anak tunggal pasangan Karina (Elsa H Syarief) dan Damar (Yogi Tan). Konflik terjadi ketika pasangan tersebut berbeda pandangan mengenai kekurangan anaknya yang tuna rungu. Sang Ibu ingin anaknya bisa tumbuh dan berkembang layaknya anak lain. Namun sang ayah bersikukuh seakan ingin menyembunyikan anaknya dari lingkungannya. Adegan pembullyan anak-anak di sekitar Tasya membuat Damar, sang ayah semakin protektif. Namun Karina didampingi pengasuh (diperankan ibu kandung Tasya) tetap mengasah bakat sang anak. Film diakhiri dengan tayangan yang merekam momen nyata saat Tasya beraksi melenggang di catwalk Asian Fashion Festival (AFF) di Gedung Mantra kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) Jakarta Utara akhir Juli lalu.

Baca Juga :  Gubernur Koster Nobar Film Believe Bersama Pangdam IX/Udayana dan Kapolda Bali di MBG Kuta

Menco Hidayat menegaskan meski karya film pendeknya dibuat dalam waktu singkat, namun dibuat dengan sepenuh hati karena tergugah dengan bakat dan talenta Tasya. ”Harapannya film ini dapat menjadi inspirasi, bahwa anak-anak dengan keterbatasan jangan dipandang rendah dan dibedakan, namun justru harus didukung agar mampu tampil percaya diri dan mengembangkan bakat dan minatnya sehingga mereka mampu mandiri dan terbuka lebar harapan untuk berkarya,” ujarnya.

Dipilihnya judul Melangkah Tanpa Suara karena mencermati kemampuan Tasya yang berjalan di catwalk dengan baik meskipun tanpa dipandu suara musik yang mengiringi. ”Tasya mampu tampil dengan baik, percaya diri dan memukau saat melangkah di atas panggung modelling, bahkan jutsru mampu meraih prestasi,” ujar pria asal Jakarta ini dengan kagum.

Diakuinya tidak ada kesulitan berarti dalam membuat film yang diselesaikan dalam waktu 2 hari ini. Diakuinya Tasya sangat cerdas, mempunyai empati tinggi dan terbiasa di depan kamera sehingga proses persiapan dan take shoot berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Bahkan para pemain lainpun dalam waktu singkat mampu belajar bahasa isyarat. Kedua aktor dan aktris yang berperan menjadi ayah dan ibu Tasya pun mengaku menikmati proses pembuatan film. ”Suasana happy dan enjoy serta dukungan translater membuat proses pembuatan film menjadi mudah,” jelas Elsa Syarief diamini Yogi Tan.

Keduanya menyatakan kepercayaan diri dan kecerdasan Tasya sangat membantu proses pembuatan film yang berlokasi di Cibinong dan Pantai Indah Kapuk II Jakarta ini. Film pendek sarat motivasi ini akan tayang via kanal lokalfilm, video.com dan kanal digital lainnya. ”Kami berharap film ini bisa tayang di daerah-daerah juga sebagai motivasi dan inspirasi bagi kaum disabilitas lainnya,” pungkas Menco.

Baca Juga :  <strong>Barack Obama Menangkan Emmy Awards 2022</strong>

Sukanaya menambahkan film yang mengambil inspirasi dari kisah nyata ini didedikasikan untuk anak-anak dengan keterbatasan fisik, termasuk keterbatasan pendengaran. ”Tasya lahir 28 September 2013 bertepatan dengan Hari Tuna Rungu Sedunia,” ujar ayah dua putri ini.

Dijelaskan nama Mega diambil dari nama Meganyon peraih Miss Uiverse 2013  yang dilaksanakan di Nusa Dua saat itu. Pihaknya berharap tanggal lahir dan nama yang diplihnya dapat menjadi doa dan harapan dari keluarga untuk Tasya agar menjadi bintang pada suatu saat nanti. Sejak lahir Tasya dinilai berbeda dari anak-anak disabilitas lain. ”Dia cerdas, punya percaya diri yang tinggi dan bahkan punya empati kepada orang lain,” ucapnya.

Selaku ayah, Sukanata bersama sang istri mendukung penuh pengembangan bakat dan minat putri pertamanya tersebut.

Sang bintang film, Tasya mengaku menikmati proses pembuatan filmnya. Dengan Bahasa isyrat dan wajah sumringah penuh senyum Tasya menceritakan kebahagiaannya dalam proses pembuatan hingga film tersebut tayang. Gadis dengan hobi menari dan modelling ini mengajak masyarakat untuk menonton film pendek yang sebagian ceritanya berangkat dari kisah nyata perjalanan hidupnya. Remaja berperawakan ramping ini ternyata memiliki segudang pengalaman dan prestasi. Diantaranya mengkuti fashion show model tingkat Asia dilaksanakan di Bangkok Thailand sebagai salah satu duta dari Indonesia. Tasya bahkan terlibat pembuatan film Anak Bisu di event G20 atas permintaan Presiden Jokowi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang bertemu Tasya saat peresmian salah satu unit di RSU Prof Dr Ngoerah.

Remaja berwajah eksotik ini juga sudah malanag melintang di ajang modelling berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Malang dan Yogyakarta. Bahkan Tasya mampu mengukir prestasi dengan meraih predikat Miss Preteen Indonesia, dan pemegang Piala Presiden  Top Model Indonesia.

Baca Juga :  Dua Film "Avengers" akan Tayang pada 2025

Film pendek telah mengantongi sertifikasi lolos sensor dari Badan Sensor Film ini sudah tayang media pada 22 Agustus 2025 di Gedung Film Usmar Ismail Cikini Jakarta. Warga Denpasar akan disajikan film ini di Lapangan Taman Kota Lumintang Kota Denpasar, Minggu (31/8) esok malam.

Sukanaya berharap masyarakat Kota Denpasar dapat menyaksikan film Melangkah Tanpa Suara sebelum dirilis resmi di kanal-kanal film digital. Ia menghadirkan film sebagai sebuah sajian yang tidak hanya menghibur namun juga dapat menjadi inspirasi. (fkb/pas)

Shares: