Nasional

Hendry Ch Bangun: Teknolog AI Sebagai Pelengkap Bukan Pengganti Reporter  
Diterbitkan: 24 Desember 2025, 13:52

JAKARTA, FORUMKEADILANBali.com – Teknologi AI berperan besar dalam menangani pekerjaan bersifat pengulangan dan teknis. Mulai dari peringkasan informasi, pengolahan data, hingga penyusunan berita berbasis data yang sudah tersedia.

Meski demikian, survei juga menemukan adanya kekhawatiran penggunaan AI oleh reporter. Sejumlah media menilai penggunaan AI secara berlebihan dapat menurunkan ketajaman berpikir, mengganggu akurasi, dan berpotensi melanggar etika jurnalistik. ”AI masih diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti reporter atau editor”.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pakar JMSI (Jaringan Media Siber Indonesia) Pusat Hendry Ch Bangun dalam Seminar Green Journalism 4.0 6 Tahun JMSI-FISIP Uhamla dengan tema Kolaborasi Teknologi AI dan Reporter di Kampus FISIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA, Jl. Limau II Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).

Selain menghadirkan Hendry Ch Bangun, tampil sebagai pembicara lain Irsyan Hasyim, Ketua AJI (Asosiasi Jurnalistik Indonesia) Jakarta. Seminar dibuka Wakil Dekan FISIP Uhamka Farida Hayati yang mengharapkan hasil event ini dapat memperkaya mahasiswa seiring perkembangan teknologi AI makin canggih dan kompleks.

Sementara mewakili Ketua Umum JMSI Pusat, Teguh Santosa berhalangan hadir, Syarif Hidayatullah, Ketua Bidang Usaha JMSI Pusat mengatakan event ini merupakan wujud kerjasama akan terus berlanjut. Pemilihan topik didasarkan pada kebutuhan.

Materi yang disampaikan Hendry merupakan hasil survei yang dibuat khusus, di mana sejumlah respondennya merupakan media anggota JMSI.

Hendry CH Bangun merupakan salah satu tokoh pers nasional tersebut menyebutkan kerja jurnalistik di lapangan tetap membutuhkan manusia untuk memastikan fakta, konteks, dan nilai berita.

Ke depan, lanjut Ketua PWI Pusat, 2023-2025, mantan Wakil Ketua Dewan Pers, dan Sekjen PWI Pusat 2 periode ini, peran AI dalam manajemen media diprediksi akan semakin besar. Namun, kualitas jurnalistik tetap ditentukan kemampuan wartawan dalam berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menjaga etika profesi.

Baca Juga :  <strong>Wawali Arya Wibawa Paparkan Inovasi Pencapaian Target PAD Dihadapan Komisi XI DPR RI</strong>

Mengutip dari dive tech, peran AI dalam segala hal telah meningkat. AI telah merevolusi industri media khususnya penggunaan tugas bersifat pengulangan dan mengoptimalkan proses yang kompleks. Al dapat menghasilkan teks,mengedit gambar sehingga wartawan bisa lebih fokus pada tugas yang bersifat kreatif dan analisis.

Nara sumber kedua, Irsyan Hasyim menambahkan peran jurnalisme lingkungan dinilai semakin my Z di tengah memburuknya krisis ekologis di Indonesia. Disaat yang sama, perkembangan teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) menjadi kebutuhan baru bagi media. “Reporter lapangan tetap tidak dapat digantikan oleh teknologi,” tegasnya.

Dia mengatakan jurnalisme lingkungan memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal kerusakan alam yang terjadi lebih cepat dibandingkan upaya pemulihannya. Menurutnya, media harus melakukan pengawasan berkelanjutan terhadap kebijakan publik yang berdampak pada lingkungan hidup. ”Jurnalisme lingkungan tidak hanya membahas isu alam semata, tetapi juga berkaitan dengan dimensi politik, ekonomi, dan sosial,” ujar Irsyan. (*)

Shares: