BANGLI, FORUMKEADILANBali.com – Kemarau panjang yang melanda ddaerah Bali berpotensi mengancam ribuan tanaman jeruk di Kintamani gagal panen. Hasil pantauan di sejumlah lokasi menunjukan, sejumlah tanaman jeruk sedang produktif mulai layu.
Sejumlah petani jeruk mengaku khawatir jika kemarau berlangsung hingga beberapa waktu ke depan, dipastikan jeruk akan mati. ”Kondisi ini berlangsung alami, dan umumnya jika hujan turun tanaman jeruk akan normal kembali, namun kami tetap khawatir bisa berakibat fatal,” ungkap Eka Putra, salah seorang petani dihubungi, Rabu (2/9/2026).
Lebih lanjut, Eka Putra menjelaskan, bukan hanya tanaman jeruk yang mulai layu, juga ada tanaman lain seperti kopi atau tanaman tahunan lainnya. Umumnya, tanaman yang tidak memiliki naungan yang memadai sangat rawan dengan musim kemarau. Namun bagi luasan atau lahan perkebunan yang memiliki naungan yang cukup padat, kondisinya masih baik-baik saja. ”Resiko tanaman yang tidak ada pohon penghijauan seperti itu. Saat kemarau rentan layu, bahkan mati,” tegas Eka Putra seraya menambahkan petani berharap musim kemarau tahun ini tidak berlangsung secara ekstrem.
Sementara itu, sejumlah petani jeruk mengaku sangat khawatir dengan kemarau panjang yang saat ini terjadi. Bukan saja berpotensi menghancurkan tanaman jeruk yang telah lama mereka rintis, namun juga berpotensi mengganggu produksi tanaman holtikultura lainnya. ”Saya berharap kemarau tidak panjang, seperti yang diberitakan selama ini. Jika itu terjadi, dipastikan hektaran perkebunan jeruk di Kintamani akan mengalami kekeringan dan akhirnya mati. Tanaman tersebut umumnya terjadi di wilayah Timur Kintamani yang berdekatan dengan Gunung Batur,” ungkap salah seorang petani seraya menambahkan jika itu terjadi kerugian besar akan dialami petani.
Terkait kemungkinan melakukan penyiraman, sejumlah petani mengatakan hal itu hampir mustahil dilakukan. Selain minimnya sumber air, juga disebabkan tanah rawan kering terdiri dari batuan dan pasir. ”Sangat mustahil kami bisa melakukan penyiraman di areal yang cukup luas. Kalu disiram mempercepat tanaman mengering,” jelasnya.
Pantauan di sejumlah lokasi menunjukan, kemarau telah berlangsuyng cukup lama bukan saja menyebebabkan tanaman jeruk mulai layu, juga membuat banyak buah jeruk gugur akibat kekurangan air. Jika kondisi ini tetap berlangsung hingga beberapa hari ke depan, dipastikan hektaran perkebunan jeruk Kintamani dipastikan gagal panen. (jel)

