Nasional

Ketua TP PKK Denpasar Kunjungi Kebun Imut, Olah Sampah Organik Basah Berbasis Maggot
Diterbitkan: 23 April 2026, 19:14

DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Di tengah persoalan pengelolaan sampah menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Denpasar, muncul sebuah solusi inovatif berbasis masyarakat mengatasi sampah organik, khususnya sampah organik basah. Solusi tersebut datang dari tangan kreatif, Ana Rohanah Salamah pemilik Integrasi Maggot Unggas dan Tanaman (Kebun Imut) di Kampung Islam Kepaon, Desa Pemogan, Denpasar Selatan.

Inovasi ini menarik perhatian Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara langsung mengunjungi inovasi kebun Imut Bersama instansi terkait untuk melihat proses pengelolaan sampah berbasis maggot, Kamis (23/4/2026).

Ny. Antari Jaya Negara mengapresiasi upaya dilakukan Ana membantu mengurangi volume sampah organik di Kota Denpasar. ”Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ana Rohanah Salamah karena telah berkontribusi membantu pemerintah mengurangi sampah dengan sistem maggot,” ujarnya.

Ia mengatakan kunjungan yang dilakukan melihat langsung kebutuhan sarana dan prasarana diperlukan agar pengelolaan maggot dapat berkembang dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Selain sebagai tempat pengolahan sampah, kebun Imut berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat cara mengelola sampah yang baik dan ramah lingkungan.

Sementara itu, Ana Rohanah Salamah selaku pemilik Kebun Imut atau Rumah Imut menyampaikan rasa terima kasih dan mendapat anugrah besar dalam hidupnya  atas perhatian dan kunjungan Ketua TP PKK Kota Denpasar. Ia menjelaskan pengelolaan sampah organik berbasis maggot menjadi salah satu solusi efektif mengatasi permasalahan limbah organik.

Ana mengaku memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam yang mampu mengurai limbah organik hingga 70 persen, atau sekitar 50 hingga 100 kilogram per hari. Menurutnya, maggot merupakan makhluk sangat efektif mempercepat proses penguraian sampah. ”Saya mengelola sampah organik berbasis maggot secara spontan. Melihat ciptaan Tuhan luar biasa, justru maggot ini mampu mengolah sampah organik dengan sangat baik,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tanamkan Rasa Cinta Budaya Bali, WHDI Kota Denpasar Gelar Lomba Macepat

Ia menjelaskan pengelolaan maggot dilakukan secara sistematis dengan dukungan sarana dan prasarana memadai. Berapa pun volume sampah organik dapat dikelola dengan baik. Prosesnya dimulai dari pencacahan atau pembuburan sampah menggunakan mesin, sehingga memudahkan maggot dalam mengurai limbah tersebut.

Dalam siklusnya, kata Ana, larva maggot minggu pertama masih mengonsumsi sampah dalam jumlah kecil. Memasuki minggu kedua, kemampuannya meningkat pesat, bahkan mampu menghabiskan sampah hingga dua kali lipat dari berat tubuhnya setiap hari. Hal ini membuat proses penguraian sampah menjadi sangat cepat dan efisien.

Selain mengurangi sampah, menurutnya, maggot tumbuh dan memiliki nilai ekonomis karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak  miliknya. Bisa diberikan baik dalam kondisi segar, kering, maupun diolah lebih lanjut. Sementara sisa penguraian sampah oleh maggot dimanfaatkan menjadi kompos atau kasgot yang berguna untuk berkebun. ”Perjalanan mengelola sampah dimulai sejak tahun 2015. Meski sempat mengalami kendala dan berhenti, dalam dua tahun terakhir saya kembali mengembangkan metode ini hingga berjalan optimal,’’ katanya.

Ia menambahkan, Kebun Imut dikembangkan di lahan seluas 2 are di Jalan Raya Pemogan, Gang Sholeh menjadi tempat integrasi pengelolaan maggot, peternakan unggas, serta budidaya tanaman. Selain itu, hasil pengolahan sampah dimanfaatkan menjadi eco enzyme serta pengolahan minyak jelantah menjadi sabun. ”Pengelohan sampah kami berkolaborasi dengan go green, Bali Waste Management Training Center, TPS3R Kubu Lestari dan  Komunitas Aksi Masyarakat Peduli Lingkungan,’’ paparnya. (pas)

Shares: