BANGLI, FORUMKEADILANBali.com – Desa Wisata Penglipuran, Bangli menjadi contoh nyata bagaimana tradisi dan modernisasi dapat berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang memikat wisatawan dari penjuru dunia. Pada tanggal 23 Januari 2025, sebuah forum penting diadakan di desa ini, mempertemukan para pemimpin daerah, tokoh adat, dan masyarakat setempat membahas peningkatan sinergi dalam pengelolaan dan pengembangan daya tarik wisata.
Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta menyampaikan kesejahteraan masyarakat prioritas utama. “Kami berkomitmen memastikan setiap kebijakan yang diambil berpihak pada kepentingan masyarakat, dengan tetap menghormati nilai-nilai adat dan budaya yang menjadi fondasi Penglipuran,” ujarnya.
Diskusi tersebut fokus pada pembagian hasil retribusi pariwisata, dengan kesepakatan 60% untuk Desa Penglipuran dan 40% untuk Pemerintah Kabupaten Bangli tetap dipertahankan. Dana tersebut akan digunakan perbaikan infrastruktur desa senilai Rp2.5 miliar dijadwalkan tahun 2026, serta pengembangan paket wisata lebih luas.
Bupati Sedana Arta menegaskan pihaknya memastikan manfaat yang diterima dapat dikelola secara langsung masyarakat. “Dengan memberikan keleluasaan dan pembebasan ruang gerak, kita memberdayakan masyarakat mengelola potensi desa mereka sendiri,” ucap Sedana Arta.
Selain itu, kata Sedana Arta, forum ini juga membahas isu-isu strategis seperti pengelolaan sampah diharapkan dapat diubah menjadi sumber pendapatan baru melalui pengolahan kompos dan pemanfaatan energi. Dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih relatif kecil, setiap peluang meningkatkan pendapatan daerah akan dimaksimalkan.
Penglipuran bukan hanya sekadar desa wisata, tetapi simbol keberhasilan masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat, Penglipuran terus bersinar sebagai permata Bali yang mempesona. (fkb/pas)

