Nasional

Tiga Desa di Buleleng Masuk Kawasan BUGGp
Diterbitkan: 2 Mei 2026, 15:58

KINTAMANI, FORUMKEADILANBALI.com – Tiga desa yang berlokasi di wilayah Kabupaten Buleleng yakni Tejakula, Sembiran dan Madenan akan segera menjadi kawasan Batur Unesco Global Geopark (BUGGp).

Sebagai langkah awal, pihak pengelola Batur Unesco Global Geopark segera melakukan sosialisasi ke ketiga desa tersebut. Ada sejumlah pertimbangan menjadikan ketiga desa tersebut masuk ke kawasan Geopark Batur. ”Ketiga desa tersebut memiliki kesamaan geologis, budaya, dan biologi dengan kawasan kaldera Batur. Hal itu menjadikan ketiga desa ini layak masuk kawasan Batur Unesco Global Geopark,” tegas General Manajer Batur Unesco Global Geopark (BUGGp) Wayan Gobang Edy Sucipto, AP., M.M., ditemui disela-sela rapat pengelola BUGGp di Gedung setempat, Sabtu (2/5/2026)

Gobang menjelaskan, per Pebruari 2026 pengelolaan BUGGp telah diambilalih pemerintah Provinsi Bali sesuai SK Gubernur Bali Nomor 212/03-J/2026 tentang Pengelola Batur Unesco Global Geopark periode tahun 2026-2031 tertanggal 9 Pebruari 2026. Dengan diambilalih Pemprop Bali, maka segala kegiatan yang dilaksanakan pengelola wajib untuk dilaporkan langsung kepada Gubernur Bali dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah dan juga pelindung. ”Kami wajib untuk menyampaikan laporan setiap tiga bulan sekali,” jelas Gobang yang juga mantan pejabat di Pemkab Bangli ini.

Terkait perluasan wilayah cakupan kawasan Geopark Batur, Gobang menjelaskan, sesuai ketentuan dari Unesco Global Geopark, kawasan telah ditetapkan sebagai kawasan geopark selama 4 tahun, diperbolehkan melakukan perluasan dengan ketentuan maksimal 10 persen dari kawasan awal. ”Batur Unuesco Global Geopark saat ini luasnya mencapai 366,29 hektar, sesuai ketentuan kita bisa menambah sekitar 10 persen dari luas total tersebut,” ujar Gobang seraya menambahkan setelah melakukan serangkaian observasi, diskusi dan juga mendengarkan masukan dari sejumlah pihak maka Desa Tejakula, Sembiran, dan Madenan menjadi lokasi yang paling pas.

Baca Juga :  Discovery Mall Bali Jadi Tuan Rumah Ultra Beach Bali 2022

Pengambilalihan pengelolaan kawasan Batur Unesco Global Geopar ini, jelas Gobang, memberikan angin segar untuk meningkatkan profesionalisme pengelola. Melalui manajemen telah ditetapkan, ia berharap dalam beberapa tahun ke depan, BUGGp benar-benar akan mampu menjadi pusat konservasi, edukasi, dan pengembangan ekonomi berbasis lingkungan hidup yang berkelanjutan. ”Kita berharap pengelolaan BUGGp benar-benar professional,” papar Gobang.

Sepanjang tahun 2026, menurut Gobang, pengelola BUGGp akan melaksanakan sejumlah program yang berkaitan dengan tujuan pembentukannya diantaranya melakukan upaya konservasi terhadap sejumlah situs melalui kegiatan pembersihan, menjaga pelestarian Danau Batur, melakukan serangkaian lomba menyambut HUT BUGGp. Tak kalah penting menyusun program strategis mempertahankan hasil penilaian Asesor tentang predikat BUGGp. ”Tahun 2028 kita akan kembali divalidasi tim asesor dari Unesco. Persiapan akan kita lakukan secara maksimal,” paparnya.

Sekedar mengingatkan, kawasan wisata Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali selain mempesona karena keberagaman adat dan budayanya, karena keindahan kaldera Gunung dan Danau Batur. Pesona ini sejak tahun 2012 lalu Unesco menetapkan kaldera Gunung Batur sebagai salah satu jaringan Unesco Global Geopark (UGGp) sekaligus menjadikan kawasan ini sebagai geopark pertama di Indonesia. Kaldera Batur bukan hanya mempesona secara visual, tetapi kaya dengan nilai ilmiah, budaya dan ekologisnya yang komplit. Kondisi ini menjadikan kawasan kaldera Batur tidak saja menjadi pusat wisata, tetapi menjadi pusat pengembangan edukasi dan konservasi bagi generasi mendatang. (jel)

Shares: