Nasional

Wagub Giri Prasta: Boleh Maju, Tapi Jangan Tercerabut dari Akar Adat dan Budaya
Diterbitkan: 4 September 2025, 19:13

DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Krama Bali boleh maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai tercerabut dari akar adat dan budaya. Penekanan itu disampaikan Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta dalam sambrama wacana-nya saat menghadiri Upacara Manusa Yadnya Mapetik, Menek Kelih dan Metatah Massal di Banjar Tunjung Sari, Peguyangan Kangin, Denpasar Utara, Kamis (4/9/2025).

Sebagai Guru Wisesa, Wagub Giri Prasta menyampaikan terima kasih dan rasa bangga kepada krama Banjar Tunjung Sari menunjukkan semangat luar biasa dalam nangun yadnya. Ia sangat memahami banyaknya waktu, tenaga dan dana yang dicurahkan umat Hindu di Bali dalam melaksanakan rangkaian upacara adat dan keagamaan. ”Ada upacara macaru, pawiwahan, ngotonin, tiga bulanan, mesangih, rangkaian pujawali di merajan, kahyangan tiga, kahyangan jagat, sad kahyangan, dan hari suci seperti Galungan, Kuningan, Nyepi, Pagerwesi, Saraswati, Tumpek, Purnama, dan Tilem,” urainya.

Menurutnya pemerintah wajib hadir meringankan beban umat dalam melaksanakan upacara adat dan keagamaan. ”Itu sudah saya terapkan sejak menjabat sebagai Bupati Badung, dan saya bangga karena Walikota Denpasar juga sudah melaksanakan hal serupa,” imbuhnya.

Sebagai wujud dukungan terhadap pelaksanaan manusa yadnya krama Tunjung Sari, Wagub Giri Prasta menyerahkan punia sebesar Rp50 juta diterima Ketua Panitia Karya Wayan Dana. Selain itu, Giri Prasta juga menyerahkan bantuan Rp5 juta untuk Seka Gong Banjar Tunjung Sari.

Mantan Bupati Badung dua periode ini memberi pemahaman tentang makna rangkaian Upacara Manusa Yadnya yang dilaksanakan krama Banjar Tunjung Sari, Peguyangan Kangin.

Dijelaskannya, upacara mapetik yang biasanya dilaksanakan pada balita berumur tiga bulan atau satu oton bukan semata kegiatan memotong rambut. ”Upacara ini menjadi tanda bahwa anak telah menjadi manusia seutuhnya,” ucapnya.

Baca Juga :  Bangli Raih Penghargaan BRIDA Optimal 2025 Berkat Inovasi Eco Enzym untuk Danau Batur

Upacara matatah dilaksanakan bersama-sama, Wagub Giri Prasta berpesan kepada orang tua peserta untuk melaksanakan atur piuning di merajan masing-masing. ”Ini sangat penting, cari waktu sembahyang di merajan. Sembah bakti ditujukan kepada Hyang Semara Ratih, mohon agar upacara mesangih berjalan lancar,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan kaitan upacara matatah, masing-masing orang tua juga wajib menyiapkan klungah dan banten peras yang akan dijadikan pijakan bagi peserta. ”Kalau ini sudah dilaksanakan, upacara akan masuk kategori utamaning utama,” jelasnya.

Wagub Giri Prasta menyinggung tentang ungkapan nak mule keto selama ini sering menjadi jawaban umat Hindu ketika ditanya tentang makna sebuah tradisi atau upacara. Ia ingin umat Hindu tak lagi berpedoman pada ungkapan ini dalam melaksanakan swadharma. Pelaksanaan swadharma beragama hendaknya berpedoman pada konsep Tri Samaya, di mana manusia harus mampu memaknai masa lalu (atita), masa kini (wartamana), dan masa depan (nagata). ”Kalau yang dulu bagus, tetap laksanakan. Tapi yang tidak baik, kita tinggalkan. Masa kini kita yang melaksanakan agar ke depan menjadi lebih baik untuk mencapai tujuan dalam Agama Hindu,” ungkapnya.

Ketua Panitia Karya, Wayan Dana menyampaikan terima kasih atas kehadiran Wagub Giri Prasta. Menurutnya, bantuan yang diberikan sangat bermanfaat meringankan beban krama dalam nangun yadnya.

Ia menginformasikan manusa yadnya digelar Banjar Tunjung Sari meliputi Mapetik, Menek Kelih, dan Metatah. Mapetik diikuti 42 peserta, upacara Menek Kelih diikuti 61 peserta, dan matatah (potong gigi) diikuti 104 peserta. (fkb/pas)

Shares: