DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Pemerintah Kota Denpasar bersama Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar berkesinambungan menggelar pelatihan membuat Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu menyasar wanita Hindu di Kota Denpasar.
Pelatihan dihadiri Wakil Ketua WHDI Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa digelar di Balai Banjar Lingkungan Taman Sekar, Kelurahan Padangsambian, Minggu (26/4/2026).
Lebih dari 20 orang peserta merupakan ibu-ibu PKK banjar setempat, secara seksama mengikuti setiap materi yang diberikan narasumber dari WHDI Kota Denpasar.
Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa didampingi Ketua TP PKK Kecamatan Denpasar Barat, Ny. Prima Dewi Yuswara, menyampaikan pelatihan ini sengaja digelar untuk memberikan pemahaman mengenai makna dan juga tata cara pembuatan Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu. Karena jenis banten otonan ini sangat dibutuhkan setiap enam bulan memperingati hari kelahiran secara agama Hindu. “Pelatihan pembuatan banten ini dikhususkan pembuatan Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu. Sehingga peserta mayoritas kaum ibu ini paham tidak saja cara membuat banten, tapi pengaplikasian serta filosofi dari banten tersebut sesuai dengan sastra Agama Hindu lewat bimbingan narasumber berpengalaman dari WHDI,” ujar Ayu Kristi.
Sementara narasumber pelatihan banten dari WHDI Denpasar, Ni Wayan Sukerti menjelaskan materi yang diajarkan dalam pelatihan membuat banten adalah Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu. Banten ini terdiri dari “Ulun Banten” yakni pejati, gebogan, pengambean, peras soda, dapetan pokok, terdiri dari sesayut (Sesayut Pabersihan, Sesayut Sida Purna, Sesayut Pageh Urip) dan Tebasan Pemiak Kala, juga Segehan Manca Warna, Bayakaonan dan Prayascita. “Pelatihan ini sekaligus menjelaskan filosofi dari masing-masing komponen banten tersebut serta tata cara pengaplikasian dalam upacara otonan,” jelasnya.
Sukerti menambahkan, pelatihan banten kepada masyarakat merupakan program rutin tahunan sekaligus menjadi media saling bertukar pikiran dan pengetahuan tentang pembuatan banten. “Pelatihan pembuatan banten sebagai media saling bertukar pikiran dan berbagi pengetahuan tentang pembuatan banten,” ucap Sukerti.
Salah satu peserta pelatihan, Anak Agung Inten menyambut baik dilaksanakan pelatihan membuat banten di lingkungannya. Kegiatan ini sangat membantu ibu-ibu semakin memahami tata cara pembuatan banten dan pengaplikasian dalam upacara. ”Kita di Bali tidak pernah terlepas dari kegiatan keagamaan,” ungkapnya. (pas)

