DENPASAR, FORUMKEADILANBali.com – Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar menggelar pelatihan kecakapan hidup dengan membuat Banten Otonan Tumpeng Pitu menyasar ibu-ibu di Banjar Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja, Denpasar Utara, Jumat (24/4/2026).
Ketua WHDI Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara mengatakan pelatihan ini memberikan pemahaman sekaligus menyamakan persepsi masyarakat terkait makna Banten Otonan Tumpeng Pitu serta tata cara pembuatannya sesuai sastra agama Hindu.
Menurutnya, banten otonan merupakan sarana upacara rutin digunakan setiap enam bulan sekali memperingati hari kelahiran berdasarkan kalender Bali. Karena itu, penting bagi masyarakat, khususnya ibu rumah tangga mengetahui cara pembuatan dan maknanya. ”Banten otonan sering digunakan di dalam keluarga. Jika masyarakat bisa membuat sendiri dan memahami maknanya, dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga,” ujarnya.
Ny. Sagung Antari Jaya Negara menjelaskan kegiatan ini bagian dari program kerja WHDI Kota Denpasar di bidang keagamaan dilaksanakan berkelanjutan di setiap banjar di empat kecamatan se-Kota Denpasar. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi setiap pelatihan. ”Antusias masyarakat sangat besar, sehingga WHDI merespon positif terus mengadakan pelatihan seperti ini secara berkelanjutan,” katanya.
Ia berharap melalui pelatihan ini, ibu rumah tangga tidak hanya mampu membuat banten otonan untuk kebutuhan keluarga, tetapi dapat mengaplikasikan di lingkungan lebih luas.
Sementara itu, narasumber dari WHDI Kota Denpasar, Ni Wayan Sukerti menjelaskan pelatihan membuat banten otonan bukan menggurui, melainkan menyamakan persepsi terkait makna Banten Otonan Tumpeng Pitu sesuai ajaran yang diperoleh dari nabe atau sulinggih.
Ia menegaskan pelaksanaan otonan sebaiknya dilakukan di merajan, bukan di rumah. Tapi di merajan merupakan tempat berstana Ida Sang Hyang Widhi beserta para leluhur. Kalau merajan milik banyak keluarga beliau tidak mempermasalahkan. ”Setiap pelaksanaan otonan sebaiknya dilakukan di merajan, karena saat mengaturkan banten, para Dewa dan leluhur diyakini hadir,” jelasnya.
Sukerti berharap masyarakat semakin memahami tata cara pembuatan banten otonan yang benar sesuai sastra agama Hindu, serta mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu peserta Ni Nyoman Rikin Ariani mengucapkan terima kasih kepada WHDI Kota Denpasar karena telah melaksanakan pelatihan. Menurutnya kegiatan ini sangat bagus untuk menyamakan persepsi. Bahkan ia baru mengetahui ngotonin harus dilaksanakan di merajan. “Melalui pelatihan ini, saya mengetahui. Semoga kegiatan ini berlanjut agar masyarakat mengetahui makna dari otonan maupun banten otonan,” harapnya. (pas)

