Nasional

Restorasi Suci Pura Agung Besakih Dimulai, Gubernur Koster Kembalikan Keagungan Parahyangan
Diterbitkan: 1 Mei 2026, 21:06

KARANGASEM, FORUMKEADILANBali.com –  Gubernur Bali, Wayan Koster resmi memulai langkah besar telah lama dirancangnya dengan restorasi kawasan parahyangan di Pura Agung Besakih, pusat spiritual umat Hindu Bali sekaligus titik kosmologi Pulau Dewata.

Momentum sakral itu ditandai dengan pelaksanaan upacara ngeruak/mulang dasar dan peletakan batu pertama (groundbreaking) tahap II paket pekerjaan penataan area parahyangan di Pura Banua, Besakih, Rendang, Karangasem, Jumat (1/5/2026), bertepatan dengan Rahina Purnama di kawasan Pura Banua Besakih, Rendang.

Di hadapan para undangan di Wantilan Kesari Warmadewa Besakih, Gubernur Koster menegaskan proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan restorasi menyeluruh kawasan suci mengembalikan bentuk, struktur, dan nilai asli parahyangan sesuai pakem arsitektur Bali. ”Ini bukan pembangunan baru, bukan juga rehab biasa. Ini restorasi, membangun kembali dengan tetap mempertahankan keaslian,” tegasnya.

Restorasi ini berangkat dari realitas lapangan yang selama puluhan tahun menunjukkan ketidakteraturan. Mulai dari Kori Candi Bentar, penyengker, hingga palinggih, ditemukan perbedaan mencolok dalam material, warna, motif, hingga ukuran.

Material bangunan bervariasi, mulai batu padas, bata merah, hingga beton campuran semen dan pasir, dengan kualitas yang tidak seragam. Sebagian bangunan bahkan mengalami kerusakan, berlumut, dan tidak terawat. ”Secara keseluruhan tidak harmonis dan tidak mencerminkan keagungan kawasan suci dengan latar Gunung Agung,” ungkap Koster.

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena sebelumnya tidak ada standar baku. Penataan bergantung pada kemampuan masing-masing daerah kabupaten/kota maupun partisipasi umat, sehingga menghasilkan tampilan kawasan yang timpang.

Melalui restorasi ini, jelas Koster, total 30 titik suci (palinggih), 26 diantaranya merupakan areal unsur utama Pura Agung Besakih dan 4 lainnya pura pasemetonan, akan ditata ulang dengan prinsip utama: mengembalikan ke arsitektur pakem Bali aslinya, menggunakan material seragam dan berkualitas, menyeragamkan ornamen sesuai karakter asli. Tujuannya bukan hanya estetika, tetapi juga mengembalikan harmoni sekala dan niskala.

Baca Juga :  Pertamina Dorong Startup Bisnis Energi Lewat Pertamuda ”Seed and Scale 2023”

Restorasi Parahyangan merupakan tahap kedua dari penataan besar kawasan Besakih. Sebelumnya, pada tahap pertama, pemerintah telah menata palemahan melalui pembangunan gedung parkir, fasilitas umat, hingga kios pedagang. Total anggaran yang digelontorkan untuk keseluruhan penataan mencapai lebih dari Rp1 triliun, dengan rincian penataan tahap pertama total Rp911 miliar asalnya dari APBN sekitar 430 miliar dan sekitar Rp480 miliar dari APBD Pemerintah Provinsi Bali. Menariknya, pembangunan tahap awal tetap berjalan di tengah tekanan pandemi Covid-19. Pembangunan tahap II sudah juga dilaksanakan tahun 2025 dengan biaya Rp66 miliar akan dituntaskan tahun 2026 dengan anggaran Rp203 miliar merupakan sharing anggaran bersama Pemkab Badung.

Koster mengungkapkan perubahan paling nyata justru dirasakan pada aspek akses dan parkir yang sebelumnya menjadi sumber persoalan klasik. ”Dulu krodit sekali. Kendaraan menumpuk, umat tidak bisa masuk, bahkan ada sembahyang dari jalan lalu pulang,” kenangnya.

Dengan sistem parkir terpusat dan pengaturan berbasis kebijakan gubernur, kemacetan dulu kerap terjadi saat upacara besar nyaris tidak lagi ditemukan.

Koster menegaskan proyek ini tidak boleh dipandang sebagai pekerjaan konstruksi biasa. ”Ini linggih stana Ida Bhatara. Harus dikerjakan dengan rasa, dengan doa, tidak bisa asal bangun,” ujarnya.

Ia meminta seluruh kontraktor bekerja dengan kesadaran spiritual, mengawali dan mengakhiri pekerjaan dengan doa. ”Jangan hanya mikir untung. Kalau kualitas dikurangi, hasilnya tidak baik. Ini tempat suci, bukan proyek biasa,” tegasnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan keras agar tidak ada kompromi terhadap kualitas dalam proyek yang menyangkut kawasan suci.

Di balik proyek besar ini, tersimpan refleksi mendalam tentang Bali sebagai ruang sakral yang diwariskan para leluhur.

Koster mengingatkan Besakih bukan sekadar kawasan religius, melainkan bagian dari sistem kosmologi Bali, Madya Ning Bhuwana, yang terhubung dengan tatanan Padma Bhuwana, Catur Loka Pala, hingga Kahyangan Jagat. ”Bali ini bukan tanah biasa. Ini tanah yang disucikan para leluhur. Kita hanya melanjutkan apa yang telah mereka rintis,” ucapnya.

Baca Juga :  Pemkot Denpasar Komitmen Kelola Pengaduan Wujudkan Pelayanan Publik Lebih Baik

Ia menegaskan generasi saat ini memikul tanggung jawab menjaga dan menyempurnakan warisan tersebut, sebelum nantinya diwariskan kembali ke generasi berikutnya. ”Bali harus tetap ada sepanjang zaman, dengan kualitas yang semakin baik,” paparnya.

Tak berhenti pada Parahyangan, pemerintah juga telah menyiapkan tahap ketiga, yakni penataan akses menuju Besakih dari arah Bangli, Singaraja, Karangasem, dan Klungkung.

Rencana ini mencakup 2027 dengan perencanaan dan DED, tahun 2028 Pembangunan, dan tahun 2029 penyelesaian. Dengan sistem ini, perjalanan umat dari rumah hingga ke pura diharapkan menjadi satu pengalaman spiritual yang utuh, tertata, aman, dan nyaman.

Koster menutup dengan penegasan restorasi Besakih bukan hanya untuk Bali semata. ”Ini bukan hanya untuk Bali, tetapi untuk Indonesia dan dunia,” jelasnya.

Dengan target penyelesaian tahap kedua pada November 2026, proyek ini menjadi tonggak penting dalam upaya mengembalikan keagungan Pura Agung Besakih sebagai jantung spiritual yang hidup, secara fisik maupun niskala. Sebuah kerja besar bukan hanya membangun, tetapi menghidupkan kembali ruh suci warisan peradaban Bali. (fkb/pas)

Shares: