BANGLI, FORUMKEADILANBali.com – Suasana religius dan khidmat menyelimuti Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, saat Ida Sesuhunan dari 15 dadia yang ada di wilayah Desa Adat Songan diiring menuju Penataran Pura Hulundanu Batur, Rabu (17/9/2026) malam.
Prosesi Ida Sesuhunan turun kabeh tersebut menjadi salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama yang digelar di Pura Hulundanu Batur.
Ribuan krama Desa Adat Songan tampak memadati jalur prosesi dengan membawa serta mengiringi Ida Sesuhunan masing-masing dadia. Dengan mengenakan pakaian adat Bali, krama laki-laki, perempuan hingga generasi muda turut ambil bagian dalam prosesi keagamaan tersebut.
Ketua Umum Karya, I Gede Darmawa didampingi Ketua Harian dan Guru Kubayan menjelaskan kehadiran Ida Sesuhunan dari masing-masing dadia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian karya yang dilaksanakan oleh krama Desa Adat Songan. Sesuhunan tersebut diiring menuju Pura Hulundanu Batur sebagai bentuk bhakti sekaligus partisipasi seluruh krama dalam pelaksanaan yadnya yang memiliki makna penting bagi kehidupan keagamaan dan adat masyarakat setempat.
Prosesi berlangsung dengan suasana penuh khidmat. Iring-iringan Ida Sesuhunan bergerak menuju kawasan Pura Hulundanu Batur dengan diikuti ribuan krama. Alunan gamelan Baleganjur dari masing-masing dadia menggema, sehingga prosesi Ngodal ini semakin sakral. ”Sejumlah perangkat upacara turut melengkapi prosesi tersebut, sementara masyarakat dengan tertib mengikuti jalannya piodalan dan rangkaian karya,” katanya.
Momen tersebut dihadiri Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta dan Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta serta pejabat pemerintah lainnya. Mereka turut ambil bagian dalam prosesi dengan mundut Ida Sesuhunan, bersama para krama dan Jro Mangku yang memiliki tugas dalam pelaksanaan upacara. ”Keterlibatan para pejabat tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kehadiran pemerintah dalam kegiatan keagamaan masyarakat, tetapi menunjukkan dukungan terhadap pelaksanaan tradisi, adat dan kebudayaan Bali yang masih dijaga oleh masyarakat Desa Adat Songan,” ujarnya.
Sementara Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur sendiri merupakan karya yang pelaksanaannya memiliki siklus khusus, yakni setiap 10 tahun sekali. Karya ini dimulai sejak 12 Agustus hingga 7 Oktober 2026. Karena itu, pelaksanaan karya ini menjadi momentum penting bagi krama Desa Adat Songan untuk ngayah dan mempersembahkan bhakti secara bersama-sama.
Rangkaian karya tersebut tidak hanya melibatkan para Jro Mangku dan pengurus adat, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat secara luas. Krama terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari persiapan sarana upacara, pelaksanaan ritual, pengiringan Ida Sesuhunan hingga berbagai kegiatan ngayah selama karya berlangsung.
Setelah tiba di Pura Hulundanu Batur, Ida Sesuhunan dari masing-masing dadia selanjutnya akan nyejer selama 21 hari. Masa nyejer tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian karya sebelum seluruh Ida Sesuhunan kembali menjalani prosesi nyineb.
Berdasarkan rangkaian yang telah ditetapkan, prosesi nyineb Ida Sesuhunan akan dilaksanakan pada 6 Oktober 2026. Dengan demikian, keberadaan Ida Sesuhunan di Pura Hulundanu Batur selama masa nyejer menjadi salah satu bagian utama dari rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama yang berlangsung selama beberapa pekan. (pas)

